← Beranda
Perundingan Damai dengan Iran Berlanjut, Donald Trump Tak Akan Hadiri Pernikahan Putranya
Rian AlfiantoSabtu, 23 Mei 2026 | 19.34 WIB
Ilustrasi putra Donald Trump dan pasangannya. (Kevin Lamarque/REUTERS).

 

JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dipastikan tidak menghadiri pernikahan putranya, Donald Trump Jr, dengan Bettina Anderson di Bahama akhir pekan ini.

Trump memilih tetap berada di Washington DC karena situasi pemerintahan dan perkembangan geopolitik internasional yang dinilai krusial.

Keputusan itu diumumkan langsung oleh Trump melalui akun Truth Social miliknya pada Jumat (22/5) waktu setempat. Ia menegaskan, meski ingin hadir dalam momen keluarga tersebut, tanggung jawab negara membuatnya harus tetap berada di Gedung Putih.

"Meskipun saya sangat ingin bersama putra saya, Don Jr., dan anggota terbaru Keluarga Trump, yang akan segera menjadi istrinya, Bettina, keadaan yang berkaitan dengan Pemerintah, dan cinta saya pada Amerika Serikat, tidak memungkinkan saya untuk melakukannya," tulis Trump.

Baca Juga: Gangguan Cuaca Picu Blackout Sumatera, PLN Ungkap Awal Mula Listrik Padam Massal

"Saya merasa penting bagi saya untuk tetap berada di Washington, D.C., di Gedung Putih selama periode waktu yang penting ini. Selamat untuk Don dan Bettina!" lanjutnya.

Pernyataan itu sekaligus mengonfirmasi spekulasi yang muncul sehari sebelumnya, ketika Trump menyebut konflik Iran membuat waktu pernikahan putranya menjadi tidak tepat.

Tak lama setelah unggahan tersebut, Gedung Putih juga mengumumkan perubahan agenda Presiden AS. Trump membatalkan rencana perjalanan akhir pekannya ke resor golf pribadinya di New Jersey dan memilih tetap berada di ibu kota Amerika Serikat.

Meski Trump tidak menjelaskan secara detail apa yang dimaksud sebagai periode penting, keputusan itu muncul di tengah meningkatnya tensi geopolitik global, khususnya terkait perang di Timur Tengah.

Pembicaraan untuk mengakhiri konflik di kawasan disebut memasuki fase krusial. Iran kini sedang meninjau proposal baru dari Amerika Serikat, sementara Panglima Militer Pakistan yang berperan sebagai mediator dilaporkan menuju Teheran.

Perkembangan tersebut membuat perhatian Washington tertuju pada dinamika kawasan yang berpotensi memengaruhi stabilitas global.

Sementara itu, mengutip Al-Monitor, di saat bersamaan, hubungan Amerika Serikat dengan Kuba juga kembali memanas. Pemerintah AS meningkatkan tekanan terhadap negara komunis tersebut dengan mendakwa mantan Presiden Kuba Raul Castro.

Langkah itu menandai eskalasi baru dalam hubungan kedua negara yang selama ini kerap diwarnai ketegangan politik dan ekonomi.

Tak hanya itu, militer AS juga dilaporkan mengerahkan kapal induk beserta kapal pengawal ke kawasan Karibia, memperlihatkan kesiapan Washington menghadapi berbagai kemungkinan situasi keamanan.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan