← Beranda
Netanyahu Akui Israel Perluas Pendudukan Gaza Saat Gencatan Senjata, Sebut Sudah Mencapai 60 Persen
Rian AlfiantoSelasa, 19 Mei 2026 | 04.35 WIB
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (Ilia Yefimovich/Pool Photo via AP).

JawaPos.com - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut, pasukannya telah memperluas wilayah yang mereka kuasai di Jalur Gaza meski gencatan senjata masih berlangsung. Pengakuan itu memicu kekhawatiran baru bahwa Israel tengah memperdalam pendudukan permanen atas wilayah Palestina yang sudah luluh lantak akibat perang berkepanjangan.

Dalam rapat kabinet mingguan di Yerusalem akhir pekan lalu, Netanyahu mengatakan Israel kini menguasai sekitar 60 persen wilayah Gaza. Angka itu meningkat dari sekitar 53 persen wilayah yang sebelumnya sudah dikuasai militer Israel sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku Oktober lalu.

Baca Juga: Dolar AS Makin Menggila, BI Turunkan Lagi Batas Pembelian Dolar Tanpa Underlying jadi USD 25 Ribu

“Di Gaza sekarang, kami sudah menguasai bukan 50 persen, tetapi 60 persen,” kata Netanyahu mengutip Times of Israel.

Pernyataan tersebut sekaligus mengonfirmasi laporan bahwa Israel terus bergerak melewati batas-batas yang sebelumnya disepakati dalam perjanjian gencatan senjata.

Langkah itu dinilai semakin mempersempit ruang hidup warga Palestina di Gaza yang sebagian besar telah mengungsi akibat agresi militer Israel sejak Oktober 2023.
Hampir seluruh dari dua juta penduduk Gaza kini tinggal di area sempit yang tersisa di luar kendali langsung militer Israel.

Sejak awal gencatan senjata, militer Israel menetapkan apa yang disebut sebagai 'Yellow Line' atau garis kuning sebagai batas wilayah yang diduduki pasukannya. Tentara Israel secara rutin melepaskan tembakan terhadap siapa pun yang mendekati area tersebut dan dianggap sebagai ancaman.

Namun pada Maret lalu, Israel diam-diam menerbitkan peta baru yang menunjukkan perluasan area terlarang tambahan di luar garis kuning. Area baru itu ditandai dengan garis oranye dan diperkirakan mencakup sekitar 11 persen tambahan wilayah Gaza.

Jika digabungkan, zona yang kini dibatasi Israel disebut telah mencakup hampir dua pertiga wilayah Jalur Gaza. Militer Israel mengirimkan peta tersebut kepada kelompok bantuan kemanusiaan di Gaza pada pertengahan Maret.

Dalam penjelasannya, area di antara garis kuning dan garis oranye disebut sebagai zona terbatas untuk mendukung distribusi bantuan kemanusiaan.

Israel menyatakan warga sipil tidak terdampak kebijakan itu. Namun di lapangan, perluasan wilayah militer justru memicu ketakutan besar di kalangan warga Palestina yang mengungsi di area tersebut.

Banyak warga khawatir mereka sewaktu-waktu dapat dianggap sebagai target militer oleh pasukan Israel hanya karena berada di dekat zona pembatas baru.

Kekhawatiran lain yang muncul adalah dugaan bahwa Israel berencana mempertahankan wilayah-wilayah yang sudah direbut itu secara permanen.

Dalam pidatonya, Netanyahu menyatakan Israel akan terus memperketat tekanan terhadap Hamas.

“Kami memperketat cengkeraman kami terhadap Hamas,” ujar Netanyahu.

“Kami tahu persis apa misi kami, dan misi kami hanya satu, memastikan Gaza tidak lagi menjadi ancaman bagi Israel,” lanjutnya.

Meski demikian, Netanyahu tidak lagi secara tegas menjanjikan penghancuran total Hamas sebagai organisasi militer dan pemerintahan, seperti yang berulang kali ia sampaikan sejak serangan 7 Oktober 2023.

Netanyahu juga menyinggung kematian kepala militer Hamas, Izz al-Din al-Haddad, yang disebut tewas pada Jumat lalu.

“Saya berjanji bahwa semua arsitek pembantaian dan semua arsitek penculikan akan dilenyapkan, satu per satu, dan kami semakin dekat untuk menyelesaikan misi itu,” katanya.

Al-Haddad diketahui menjadi salah satu tokoh penting dalam serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyebabkan 251 orang disandera ke Gaza. Serangan itu kemudian menjadi pemicu utama perang besar di wilayah tersebut.

Parahnya lagi, di tengah status gencatan senjata yang masih berlaku, militer Israel juga mengumumkan bahwa mereka kembali melancarkan serangan udara ke Gaza pada Sabtu lalu.

Dalam serangan tersebut, Israel mengklaim telah menewaskan Bahaa Baroud, seorang komandan Hamas yang bertugas di divisi operasi kelompok tersebut. Militer Israel menyebut Baroud terlibat dalam berbagai rencana serangan terhadap tentara dan warga sipil Israel.

“Baroud menimbulkan ancaman langsung bagi pasukan IDF dan diserang serta dieliminasi melalui serangan udara presisi,” kata militer Israel.

Sementara itu, korban sipil Palestina terus bertambah selama masa gencatan senjata berlangsung. Menurut data kementerian kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, sekitar 870 warga Palestina telah tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata dimulai pada Oktober lalu.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah