JawaPos.com – Pemerintah Iran semakin intens menyampaikan pesan mengenai dampak ekonomi perang terhadap Amerika Serikat, di tengah tersendatnya pembicaraan dengan Washington.
Dilansir dari laman al-Jazeera pada Minggu (17/5), Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan negaranya siap kembali menghadapi konflik militer langsung apabila negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan yang dianggap menguntungkan Teheran.
Iran juga menilai konflik berkepanjangan akan memperbesar tekanan ekonomi yang harus ditanggung rumah tangga Amerika.
Araghchi menyebut perang di kawasan telah menyebabkan lonjakan harga energi dan inflasi di Amerika Serikat sejak konflik dimulai pada akhir Februari. Penutupan efektif Selat Hormuz disebut memengaruhi distribusi sekitar seperlima minyak dan gas dunia sehingga berdampak langsung pada kenaikan biaya hidup masyarakat AS.
Pemerintah Iran bahkan memperingatkan ancaman resesi dapat muncul apabila biaya pinjaman dan suku bunga hipotek terus meningkat akibat gejolak ekonomi global.
Selain memperingatkan dampak ekonomi terhadap AS, pejabat tinggi Iran juga menggunakan retorika yang lebih keras kepada publik internasional. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyoroti meningkatnya utang Amerika Serikat dan biaya perang yang dinilai semakin membebani pemerintah Washington. Ia menyindir kebijakan pertahanan AS yang dianggap justru memperparah risiko krisis ekonomi baru.
Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa isu Selat Hormuz tetap menjadi titik utama perselisihan dalam perundingan dengan Amerika Serikat. Pemerintah Iran bersikeras bahwa jalur pelayaran strategis tersebut harus berada di bawah pengaturan Teheran sebagai bagian dari kedaulatan nasional.
Otoritas keamanan Iran bahkan menyatakan hanya kapal dagang yang bekerja sama dengan Iran yang dapat memperoleh akses tertentu apabila mekanisme baru diterapkan.
Di tengah ketegangan geopolitik, masyarakat Iran justru menghadapi tekanan ekonomi yang lebih berat dibandingkan dampak terhadap Amerika Serikat. Inflasi pangan dilaporkan meningkat tajam dengan harga berbagai kebutuhan pokok seperti minyak goreng, beras, dan ayam melonjak drastis sepanjang tahun terakhir.
Nilai tukar rial terhadap dolar AS juga terus melemah, mencerminkan tekanan besar terhadap stabilitas ekonomi domestik Iran.
Pemerintah Iran turut memperkuat mobilisasi publik melalui kampanye nasional yang menyerukan dukungan terhadap negara di tengah ancaman perang. Televisi pemerintah menayangkan program yang memperlihatkan penggunaan senjata api dan mengajak warga mengikuti pelatihan dasar sebagai bentuk kesiapsiagaan nasional.
Seruan tersebut diperkuat dengan pengerahan pengamanan ketat di berbagai kota, termasuk kendaraan lapis baja dan pos pemeriksaan bersenjata.
Meski gencatan senjata masih berlangsung secara rapuh, pemerintah Iran terus menggaungkan narasi perlawanan terhadap tekanan asing. Demonstrasi pendukung pemerintah digelar hampir setiap malam sebagai simbol dukungan terhadap kebijakan negara menghadapi Amerika Serikat.
Di saat bersamaan, otoritas Iran memperketat kontrol keamanan domestik, termasuk pembatasan internet dan tindakan hukum terhadap pihak yang dianggap menentang pemerintah.