← Beranda
Empat Hari Setelah Menjamu Donald Trump, Xi Jinping Kini Bersiap Sambut Vladimir Putin di Beijing
Mellyna Putri DiniarSenin, 18 Mei 2026 | 22.12 WIB
Potret Presiden Tiongkok, Xi Jinping, bersama Presiden Rusia, Vladimir Putin, di tengah penguatan hubungan strategis Beijing dan Moskwa / Foto: (The Guardian)

JawaPos.com — Presiden Tiongkok, Xi Jinping, bersiap menyambut Presiden Rusia, Vladimir Putin, di Beijing pada Selasa dan Rabu pekan ini, hanya empat hari setelah kunjungan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam sebuah pertemuan tingkat tinggi yang menyita perhatian internasional. 

Rangkaian agenda diplomatik tersebut memperlihatkan bagaimana Beijing semakin memosisikan diri sebagai poros utama dalam percaturan geopolitik global di tengah meningkatnya rivalitas antara kekuatan-kekuatan besar dunia.

Menjelang kunjungan Putin, Xi dan pemimpin Kremlin itu dilaporkan saling bertukar “surat ucapan selamat” pada Minggu. Media pemerintah Tiongkok menyebut Xi menegaskan bahwa kerja sama bilateral kedua negara terus mengalami pendalaman dan penguatan secara konsisten. 

Tahun ini juga menandai 30 tahun kemitraan strategis antara Beijing dan Moskwa, hubungan yang kini berkembang jauh melampaui kerja sama ekonomi biasa dan semakin mencakup aspek energi, diplomasi, hingga keamanan strategis.

Baca Juga: Pulang dari Tiongkok, Donald Trump Kumat Lagi, Mau Serang Iran Jilid 2

Dilansir dari The Guardian, Senin (18/5/2026), media pemerintah Tiongkok, Global Times, menyebut kunjungan berurutan pemimpin Amerika Serikat dan Rusia ke Beijing dalam waktu kurang dari sepekan sebagai peristiwa yang sangat jarang terjadi sejak era Perang Dingin berakhir. 

Dalam laporannya, media tersebut menyatakan bahwa Beijing kini “semakin cepat muncul sebagai titik fokus diplomasi global.” Penilaian itu mencerminkan ambisi Tiongkok untuk memperkuat posisinya sebagai kekuatan penyeimbang di tengah ketegangan internasional yang terus meningkat.

Di sisi lain, hubungan erat antara Tiongkok dan Rusia tetap menjadi sumber kekhawatiran besar bagi negara-negara Barat, khususnya sejak Moskwa melancarkan invasi penuh ke Ukraina pada 2022. 

Para diplomat dan analis Barat menilai dukungan ekonomi dan diplomatik Beijing terhadap Rusia telah membantu mempertahankan keberlangsungan perang tersebut. Meski Tiongkok berulang kali mengklaim bersikap netral, hubungan strategis kedua negara justru semakin intensif dalam beberapa tahun terakhir.

Xi dan Putin sendiri telah bertemu lebih dari 40 kali, jumlah yang jauh melampaui interaksi Xi dengan sebagian besar pemimpin Barat. Intensitas komunikasi tersebut memperlihatkan kedekatan personal sekaligus keselarasan kepentingan strategis antara kedua negara. Dalam konteks global saat ini, hubungan Beijing-Moskwa tidak lagi dipandang sekadar kemitraan pragmatis, melainkan bagian dari upaya membentuk tatanan dunia multipolar yang dapat mengurangi dominasi Barat.

Selain itu, perdagangan bilateral Tiongkok dan Rusia melonjak ke tingkat tertinggi sejak perang Ukraina dimulai. Tiongkok kini membeli lebih dari seperempat total ekspor Rusia, terutama di sektor energi. Pembelian minyak mentah Rusia dalam skala besar disebut telah memberikan pemasukan ratusan miliar dolar bagi Moskwa untuk menopang pembiayaan perang di Ukraina. 

Berdasarkan data Centre for Research on Energy and Clean Air, Beijing telah membeli lebih dari 367 miliar dolar AS bahan bakar fosil Rusia sejak invasi besar-besaran dimulai. Dengan kurs sekitar Rp 17.660 per dolar AS, nilainya sekitar lebih dari Rp 6.481 triliun.

Pembelian energi dalam jumlah besar itu juga berkaitan langsung dengan kepentingan strategis Tiongkok sendiri. Krisis di Timur Tengah serta terganggunya jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz membuat keamanan energi menjadi isu yang semakin vital bagi Beijing. Dalam situasi tersebut, pasokan energi dari Rusia dipandang sebagai alternatif yang lebih aman dan stabil untuk menjaga ketahanan energi domestik Tiongkok di tengah ketidakpastian global.

Menariknya, isu perang Ukraina maupun hubungan Tiongkok-Rusia justru tidak banyak muncul dalam pembicaraan Xi dan Trump pekan lalu. Pernyataan resmi Tiongkok hanya menyinggung singkat soal “krisis Ukraina”, sementara pernyataan pemerintah Amerika Serikat bahkan tidak menyebut isu tersebut sama sekali. Fokus utama pertemuan lebih diarahkan pada perdagangan, Taiwan, serta konflik di Timur Tengah. Trump juga mengatakan Tiongkok sependapat dengannya mengenai pentingnya membuka kembali jalur pelayaran minyak melalui Selat Hormuz.

Namun, Taiwan tetap menjadi isu sensitif dalam pertemuan tersebut. Xi memperingatkan Trump agar menangani persoalan Taiwan secara hati-hati demi mencegah potensi konflik. Seusai kunjungan ke Beijing, Trump mengatakan dirinya belum memutuskan apakah akan menyetujui penjualan senjata Amerika Serikat bernilai miliaran dolar kepada Taiwan. 

Jika dibatalkan, keputusan itu akan menjadi keuntungan strategis bagi Beijing yang selama ini berupaya memperluas pengaruhnya atas pulau tersebut, meski mayoritas warga Taiwan menolak berada di bawah kendali Tiongkok.

Sementara itu, analis senior Atlantic Council, Joseph Webster, menilai isu Taiwan kemungkinan menjadi latar penting dalam pertemuan Xi dan Vladimir Putin. Menurut Webster, Beijing kemungkinan ingin memperkuat kerja sama energi dengan Moskwa untuk mengantisipasi risiko gangguan pasokan jika konflik terkait Taiwan pecah di masa depan. Ia menyebut peningkatan kapasitas pipa energi Rusia ke Tiongkok dapat “secara signifikan meningkatkan keamanan energi Beijing dalam skenario konflik Taiwan.”

Sementara itu, Rusia juga terus mendorong percepatan proyek pipa gas “Power of Siberia 2” yang diproyeksikan menambah kapasitas distribusi hingga 50 miliar meter kubik gas ke jaringan energi kedua negara. 

Proyek tersebut bukan hanya memperdalam ketergantungan ekonomi Rusia terhadap pasar Tiongkok, tetapi juga memperlihatkan bagaimana hubungan Beijing dan Moskwa kini semakin terikat oleh kepentingan strategis jangka panjang yang dapat memengaruhi keseimbangan geopolitik global dalam beberapa dekade mendatang.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho