JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan, Presiden Tiongkok Xi Jinping menawarkan bantuan. Langkah ini dilakukan untuk meredakan konflik dengan Iran sekaligus menjaga Selat Hormuz tetap terbuka bagi jalur perdagangan energi dunia.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap perang kawasan Timur Tengah yang mulai mengguncang pasar energi internasional.
Dalam wawancara dengan Fox News usai pertemuan bilateral di Beijing, Trump mengatakan Xi menyampaikan kesediaannya untuk membantu mencari jalan keluar diplomatik terkait konflik Iran. Menurut Trump, Xi juga menegaskan bahwa Tiongkok tidak akan memasok peralatan militer kepada Teheran.
Baca Juga: 57 Bhikkhu ASEAN Jalan Kaki 50 Km Sehari Menuju Borobudur, Bawa Misi Perdamaian
“Dia berkata, ‘Saya ingin membantu, jika saya bisa membantu dalam hal apa pun,’” ujar Trump.
Trump menambahkan, Xi memberikan pernyataan penting terkait dukungan militer terhadap Iran.
“Dia mengatakan tidak akan memberikan peralatan militer. Itu pernyataan besar,” kata Trump lagi.
Meski demikian, pernyataan tersebut belum menjawab pertanyaan lebih luas mengenai hubungan ekonomi dan strategis Tiongkok dengan Iran, termasuk dugaan dukungan intelijen, ekspor teknologi elektronik, hingga pembelian minyak Iran oleh perusahaan-perusahaan Tiongkok.
Diketahui, Tiongkok saat ini merupakan pembeli terbesar minyak Iran, menjadikan Beijing sebagai salah satu penopang ekonomi utama Teheran di tengah sanksi Amerika Serikat.
Kondisi itu membuat Washington berharap Xi dapat menggunakan pengaruh ekonominya untuk mendorong Iran menerima kesepakatan nuklir yang diinginkan AS.
Namun, sikap Xi terlihat tetap berhati-hati dan terukur. Trump mengatakan Tiongkok tetap ingin melanjutkan impor minyak dari Iran, meski menolak upaya militerisasi Selat Hormuz atau pemberlakuan tarif atas jalur pelayaran strategis tersebut.
“Dia mengatakan mereka membeli banyak minyak dari sana dan ingin terus melakukannya,” ujar Trump.
Selat Hormuz sendiri menjadi jalur vital perdagangan global karena sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewati kawasan sempit tersebut. Ketegangan di wilayah itu memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi energi global.
Pertemuan Trump dan Xi berlangsung di Great Hall of the People, Beijing, dengan seremoni penyambutan resmi lengkap dengan pasukan kehormatan dan anak-anak sekolah yang mengibarkan bendera kedua negara.
Trump beberapa kali memuji Xi sebagai pemimpin hebat, sementara Xi lebih banyak menekankan pentingnya menjaga stabilitas hubungan strategis antara dua negara ekonomi terbesar dunia tersebut.