← Beranda
AS-Iran Bersiap Lanjutkan Perundingan di Islamabad, Bahas Nuklir hingga Selat Hormuz
Rian AlfiantoSabtu, 9 Mei 2026 | 21.24 WIB
Seorang petugas polisi berjalan melewati papan iklan mengenai negosiasi Amerika Serikat dan Iran, di luar pusat fasilitasi media di Islamabad, Pakistan. (Anjum Naveed/AP)

 

JawaPos.com - Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan membuka peluang melanjutkan perundingan damai pekan depan di Islamabad, Pakistan, di tengah memanasnya konflik kawasan yang melibatkan serangan militer, blokade laut, hingga ancaman terhadap jalur energi dunia.

Laporan Wall Street Journal menyebut, kedua negara kini tengah menyusun nota kesepahaman berisi 14 poin sebagai dasar pembicaraan baru untuk menghentikan perang dan meredakan ketegangan di Timur Tengah.

Fokus utama negosiasi mencakup program nuklir Iran, keamanan Selat Hormuz, serta nasib stok uranium yang diperkaya tinggi milik Teheran.

Jika tercapai, kesepakatan awal itu akan menjadi fondasi perundingan selama satu bulan dengan opsi perpanjangan melalui persetujuan bersama.

Apa yang Dibahas dalam Negosiasi AS-Iran?

Menurut sumber yang mengetahui proses diplomasi tersebut, rancangan memorandum satu halaman itu memuat sejumlah isu paling sensitif dalam hubungan kedua negara.

Baca Juga: Jadi Masalah Internasional, Eks Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Minta Jangan Remehkan Hantavirus

Selain program nuklir Iran, pembahasan juga diarahkan pada upaya mengurangi ketegangan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi penghubung utama distribusi minyak dan gas dunia.

Isu lain yang turut masuk meja negosiasi adalah kemungkinan pemindahan stok uranium Iran yang telah diperkaya ke negara lain. Langkah ini disebut menjadi salah satu opsi untuk menekan kekhawatiran internasional terkait potensi pengembangan senjata nuklir.

Namun hingga kini, sejumlah poin penting masih belum menemukan titik temu, terutama mengenai pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran.

Namun demikian, perdebatan mengenai seberapa besar pelonggaran sanksi yang akan diberikan Washington diperkirakan menjadi hambatan terbesar dalam pembicaraan mendatang.

Iran selama ini menuntut pencabutan sanksi sebagai syarat utama normalisasi hubungan, sementara AS disebut masih berhati-hati memberikan konsesi di tengah tekanan politik dan keamanan kawasan.

Jika negosiasi berjalan positif, periode dialog awal selama satu bulan dapat diperpanjang untuk membuka jalan menuju kesepakatan yang lebih permanen.

Pakistan dalam hal ini juga kembali memainkan peran penting sebagai mediator antara Washington dan Teheran.

Baca Juga: Caketum Reynaldo Akan Tampil Maksimal di Debat Perdana Jelang Munas HIPMI

Gencatan senjata sempat diberlakukan pada 8 April melalui mediasi Islamabad. Namun putaran pertama perundingan pada 11 April gagal menghasilkan kesepakatan jangka panjang.

Meski demikian, Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang masa gencatan senjata tanpa menetapkan batas waktu resmi.

Di sisi lain, sejak 13 April, AS juga disebut mulai memberlakukan blokade angkatan laut terhadap lalu lintas maritim Iran di Selat Hormuz, langkah yang semakin meningkatkan tekanan terhadap Teheran.

Situasi tersebut membuat perundingan pekan depan dipandang sebagai momentum penting untuk mencegah konflik berkembang menjadi krisis regional yang lebih luas.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan