JawaPos.com – Pejabat Amerika Serikat melontarkan klaim bahwa Tiongkok turut mendanai Iran melalui pembelian energi.
Dilansir dari laman Al-Jazeera pada Selasa (5/5), Pernyataan ini disampaikan oleh Scott Bessent dalam konteks meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Klaim tersebut sekaligus menjadi tekanan diplomatik terhadap Beijing.
Bessent menyebut Iran sebagai negara sponsor terorisme terbesar dan menilai peran Tiongkok signifikan dalam pendanaan tersebut.
Bessent menyoroti bahwa sebagian besar ekspor energi Iran dibeli oleh Tiongkok. Hal ini dinilai memperkuat posisi ekonomi Iran di tengah sanksi internasional.
Selain itu, Amerika Serikat juga mendesak Tiongkok untuk berperan aktif dalam membuka kembali Selat Hormuz.
Jalur tersebut menjadi krusial bagi distribusi energi global yang saat ini terganggu. Washington berharap Beijing dapat menggunakan pengaruhnya terhadap Teheran.
Pemerintah AS menegaskan bahwa mereka memiliki kendali atas Selat Hormuz dan tengah menjalankan operasi pengamanan.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan kelancaran pelayaran kapal komersial. Namun, ketegangan di kawasan masih menjadi hambatan utama.
Di sisi lain, Tiongkok dan Rusia sebelumnya menolak resolusi terkait situasi Selat Hormuz di Dewan Keamanan PBB.
Kedua negara menilai rancangan tersebut tidak seimbang karena hanya menyudutkan Iran. Sikap ini menunjukkan perbedaan pandangan yang tajam dalam komunitas internasional.
Ketegangan ini juga berkaitan dengan kebijakan sanksi yang diterapkan Amerika Serikat terhadap Iran. Sejak keluar dari perjanjian nuklir, Washington terus menekan ekonomi Iran melalui berbagai pembatasan. Meski demikian, Tiongkok tetap melanjutkan impor minyak dari negara tersebut.
Pemerintah Tiongkok menolak tuduhan dan menentang sanksi sepihak yang dianggap tidak sesuai hukum internasional. Beijing menegaskan akan melindungi kepentingan perusahaan-perusahaannya. Pernyataan ini menambah kompleksitas hubungan antara kedua negara.
Situasi ini terjadi menjelang pertemuan penting antara Donald Trump dan Xi Jinping. Pertemuan tersebut diharapkan menjadi forum untuk membahas berbagai isu strategis, termasuk konflik di Selat Hormuz.
Hubungan bilateral kedua negara pun diperkirakan akan kembali diuji dalam konteks geopolitik global.