← Beranda
Elon Musk Tuding Larry Page Lebih Memihak AI daripada Manusia: ‘Larry Sebut Saya Specieist’
Mellyna Putri DiniarSelasa, 5 Mei 2026 | 23.42 WIB
Elon Musk tiba di pengadilan federal Oakland saat sidang gugatan terhadap OpenAI dimulai, 28 April 2026. (Fortune)

 

 

JawaPos.com — Perseteruan lama di lingkar elite teknologi global kembali terbuka ke publik ketika Elon Musk membawa konflik ideologisnya dengan Larry Page ke ruang sidang. Dalam gugatan terhadap OpenAI, Musk tidak hanya menyoal arah institusi, tetapi juga mempertanyakan fondasi etika dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Kesaksian tersebut menandai babak baru dalam pertarungan pengaruh di industri AI global, yang kini melibatkan tokoh-tokoh kunci seperti Musk, Sam Altman, hingga perusahaan besar seperti Microsoft. Isu yang diangkat bukan sekadar bisnis, melainkan siapa yang menentukan arah teknologi paling strategis abad ini.

Dilansir dari Fortune, Selasa (5/5/2026), Musk menyampaikan peringatan keras di hadapan juri bahwa AI “bisa membunuh kita semua”. Dia kemudian menegaskan alasan mendasar berdirinya OpenAI, dengan mengatakan, “Alasan OpenAI ada adalah karena Larry Page menyebut saya ‘specieist’.”

Dalam pernyataan lain, Musk menambahkan, “Kami tidak ingin hasil teknologi AI termanifestasi seperti Terminator. Kami ingin hasil seperti Star Trek, bukan seperti film karya James Cameron tersebut.” Referensi yang digunakan Musk merujuk pada dua kemungkinan arah perkembangan AI: skenario ketika teknologi lepas kendali dan membahayakan manusia, atau sebaliknya dimanfaatkan untuk mendorong kemajuan peradaban.

Sementara itu, istilah specieist yang dilontarkan Page—menurut Musk—menjadi titik balik konflik keduanya. Dalam konteks ini, istilah tersebut merujuk pada pandangan yang dianggap terlalu memprioritaskan manusia dibanding kemungkinan bentuk “kehidupan digital” di masa depan. Perbedaan cara pandang inilah yang kemudian membentuk garis pemisah antara pendekatan kehati-hatian dan optimisme teknologi.

Selain itu, Musk menjelaskan bahwa perbedaan tersebut mengemuka sejak pertemuannya dengan Page pada 2015. Saat Page memproyeksikan AI sebagai jalan menuju utopia, Musk justru menilai risiko tidak mendapat perhatian yang memadai. Ketegangan itu, menurutnya, menjadi alasan utama pembentukan OpenAI sebagai upaya menyeimbangkan kekuatan dalam pengembangan AI.

Namun, arah organisasi tersebut kemudian berubah. Pada 2017, kebutuhan pendanaan besar mendorong diskusi untuk mengadopsi model bisnis berorientasi profit. Musk, yang telah menyumbang setidaknya 38 juta dolar AS (sekitar Rp 660,8 miliar dengan kurs Rp 17.390 per dolar AS), menginginkan kendali lebih besar, tetapi konflik dengan Altman membuatnya keluar pada 2018.

Perubahan struktur itu berujung pada gugatan. Setelah peluncuran ChatGPT pada 2022 yang mendorong valuasi OpenAI hingga sekitar 730 miliar dolar AS, Musk menuduh Altman dan Presiden OpenAI Greg Brockman telah “mengambil alih” misi nirlaba. Dia kini menuntut ganti rugi lebih dari 150 miliar dolar AS dari OpenAI dan Microsoft.

Di sisi lain, kubu OpenAI memberikan narasi berbeda. Kuasa hukum mereka, William Savitt, menyatakan bahwa Musk sebenarnya kalah dalam perebutan pengaruh. Dia menegaskan, “Klien saya berani melanjutkan dan berhasil tanpa dirinya. Dia tidak menyukainya,” serta menyebut sikap Musk sebagai bentuk “kekecewaan pribadi,” terutama karena kini dia menjalankan perusahaan AI sendiri, xAI.

Sementara itu, dalam kesaksiannya, Musk justru berupaya memperluas konteks dengan mengaitkan proyek lain miliknya sebagai bagian dari strategi menghadapi perkembangan AI. Dia menyebut Neuralink bertujuan menciptakan “simbiosis manusia-AI” untuk meningkatkan keamanan, serta SpaceX sebagai “asuransi kehidupan bagi peradaban manusia.”

Namun, posisinya sebagai penjaga etika teknologi tidak lepas dari sorotan. Berdasarkan dokumen publik, yayasan miliknya belum memenuhi kewajiban distribusi dana amal minimum selama empat tahun. Meski demikian, pengadilan meminta juri untuk tetap fokus pada substansi perkara.

Sidang yang diperkirakan berlangsung selama empat minggu ini menjadi lebih dari sekadar sengketa hukum. Perkara ini mencerminkan perebutan arah dalam tata kelola AI global—antara visi yang menempatkan manusia sebagai pusat, dan pendekatan yang membuka kemungkinan kesetaraan antara manusia dan kecerdasan buatan di masa depan.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti