← Beranda
Zuckerberg Dorong Simulasi Biologi Manusia di Tingkat Sel: Ambisi AI yang Mengguncang Arah Baru Sains Global
Mellyna Putri DiniarSelasa, 5 Mei 2026 | 19.46 WIB
Mark Zuckerberg mendorong riset biologi berbasis kecerdasan buatan untuk memahami kehidupan manusia hingga tingkat sel / Foto: (Futurism)

JawaPos.com — Upaya Mark Zuckerberg memasuki ranah biologi molekuler menunjukkan perubahan signifikan dalam arah inovasi global. Pendiri Meta itu kini mendorong agenda ambisius untuk mereplikasi sistem kehidupan manusia pada tingkat sel melalui kecerdasan buatan.

Melalui inisiatif Chan Zuckerberg Biohub yang juga melibatkan istrinya, Priscilla Chan, seorang dokter anak, yayasan tersebut menargetkan upaya jangka panjang untuk memanfaatkan kecerdasan buatan dalam riset biologi guna menyembuhkan dan mencegah seluruh penyakit.

Mengutip Futurism, Selasa (5/5/2026), Zuckerberg berupaya mensimulasikan biologi manusia pada tingkat sel. Ia memiliki tujuan untuk “menyembuhkan dan mencegah seluruh penyakit melalui biologi berbasis kecerdasan buatan, riset tingkat lanjut, dan teknologi mutakhir.” 

Proyek ini dipandang sebagai bagian dari gelombang baru filantropi berbasis teknologi yang mengarah pada upaya memahami sekaligus merekonstruksi fondasi kehidupan manusia melalui sistem komputasi tingkat lanjut.

Dalam perkembangan terbaru, Biohub mengumumkan investasi senilai 500 juta dolar AS atau sekitar Rp 8,695 triliun (kurs Rp 17.390 per dolar AS) untuk mengembangkan model kecerdasan buatan yang mampu merepresentasikan sel manusia secara prediktif. Pendanaan ini dirancang dalam program lima tahun yang bertujuan mempercepat pemahaman tentang cara kerja sel dalam skala organisme secara menyeluruh.

Dari total anggaran tersebut, sekitar 400 juta dolar AS dialokasikan untuk pengembangan sistem kecerdasan buatan internal Biohub, sementara sisanya digunakan untuk mendukung kolaborasi dengan peneliti dari berbagai lembaga. Pendekatan ini diharapkan dapat menghasilkan pemodelan biologis yang jauh lebih presisi dibandingkan metode penelitian konvensional.

Dalam keterangan resminya, Kepala Ilmiah Biohub Alex Rives menegaskan kebutuhan akan lonjakan besar dalam ketersediaan data dan teknologi. Ia menyatakan, “Untuk membangun kecerdasan buatan yang mampu merepresentasikan seluruh kompleksitas biologi secara akurat dan mempercepat riset ilmiah, kita membutuhkan data dalam jumlah jauh lebih besar daripada yang tersedia saat ini.”

Ia menambahkan, “Kita membutuhkan teknologi baru untuk mengamati sel, mulai dari tingkat molekuler hingga jaringan, serta dalam konteks kesehatan dan penyakit.”

Di sisi lain, langkah Zuckerberg ini juga dipandang dalam konteks lebih luas sebagai bagian dari tren filantropi miliarder teknologi yang mengalihkan sebagian kekayaannya ke proyek riset kesehatan berskala besar, mengikuti pola yang sebelumnya dilakukan oleh Bill Gates dan Warren Buffett dalam ekosistem filantropi global.

Namun, ekspansi Biohub berlangsung di tengah sorotan terhadap kebijakan pajak perusahaan Meta. Laporan mencatat perusahaan tersebut hanya membayar sekitar 3,5 persen pajak pendapatan federal pada 2025, meskipun membukukan laba 79 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.376 triliun.

Padahal, tarif pajak korporasi di Amerika Serikat berada pada kisaran 21 persen, sehingga muncul selisih kewajiban pajak yang diperkirakan mencapai 13,7 miliar dolar AS. Kondisi ini memicu perdebatan mengenai keadilan fiskal serta arah distribusi keuntungan di sektor teknologi besar.

Pada akhirnya, proyek simulasi biologi manusia oleh Mark Zuckerberg tidak hanya merepresentasikan ambisi ilmiah berskala besar, tetapi juga mencerminkan pergeseran peran korporasi teknologi dalam menentukan arah masa depan riset kesehatan global.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho