JawaPos.com - Dominasi teknologi militer Israel kembali diuji. Dalam eskalasi terbaru di wilayah utara, kelompok Hizbullah dilaporkan menggunakan senjata baru yang sederhana namun mematikan: drone kecil yang dikendalikan kabel serat optik setipis benang gigi dan nyaris tak bisa dideteksi.
Mengutip berbagai sumber, drone jenis ini sebelumnya banyak digunakan dalam perang Perang Rusia-Ukraina. Ukurannya kecil, terbang rendah namun sangat sulit untuk dilacak, menjadikannya ancaman serius bagi sistem pertahanan modern.
Berbeda dari drone konvensional yang dikendalikan sinyal radio, drone serat optik terhubung langsung ke operator melalui kabel tipis. Artinya, sistem pertahanan elektronik seperti jammer, yang biasanya mampu mengganggu sinyal dan menjatuhkan drone, tidak lagi efektif.
“Jika dioperasikan dengan benar, ini benar-benar mematikan,” ujar Robert Tollast, peneliti dari Royal United Services Institute di London. Ia menjelaskan bahwa drone ini mampu terbang rendah dan mendekati target secara diam-diam tanpa terdeteksi radar.
Baca Juga: Operasi 'Project Freedom' Dimulai, AS Klaim Tenggelamkan 6 Kapal Cepat Milik Iran, IRGC Membantah
Meski begitu, teknologi ini bukan tanpa kelemahan. Kabel serat optik bisa kusut akibat angin atau gangguan lain. Namun, para ahli menilai efektivitasnya tetap tinggi di medan tempur jarak dekat.
Menurut pejabat militer Israel yang dikutip Associated Press, drone ini menjadi ancaman baru dalam konflik terkini dengan Hizbullah. Kelompok tersebut diyakini beralih ke teknologi ini setelah sistem pertahanan udara Israel berhasil menangkal roket dan drone berukuran besar.
Baca Juga: Dampak Perang Iran Tak Terbendung: Ekonomi AS Dilaporkan Mulai Runtuh!
Menariknya, drone ini diduga diproduksi secara lokal dengan biaya rendah. Komponennya cukup sederhana: drone komersial, bahan peledak kecil, dan kabel transparan yang mudah ditemukan di pasaran.
Pejabat tersebut menyebut drone serat optik kini menjadi ancaman terbesar bagi pasukan Israel di wilayah Lebanon selatan. Sebagai langkah darurat, militer Israel mulai memasang jaring dan pelindung tambahan pada kendaraan tempur.
Bahkan, .antan kepala komando pertahanan udara Israel, Ran Kochav, mengakui bahwa negaranya kesulitan menghadapi ancaman ini.
“Drone ini terbang sangat rendah dan cepat, ukurannya kecil, sangat sulit dideteksi. Bahkan setelah terdeteksi, tetap sulit dilacak,” ujarnya.
Ia menilai Israel terlalu lama fokus pada penguatan sistem pertahanan terhadap roket dan rudal, sementara ancaman drone, terutama yang berteknologi baru, kurang mendapat perhatian serius.