JawaPos.com - Ketegangan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Kanselir Jerman Friedrich Merz memasuki babak baru. Perselisihan terkait perang AS-Israel melawan Iran kini berujung pada ancaman serius: penarikan ribuan pasukan AS dari Jerman.
Trump sebelumnya sudah melontarkan ancaman tersebut setelah Merz secara terbuka mengkritik kebijakan Washington dalam konflik Timur Tengah. Kanselir Jerman bahkan menilai AS sedang 'dipermalukan' oleh Iran serta menyoroti absennya strategi yang jelas dalam perang tersebut.
Tak lama berselang, Trump mengumumkan langkah konkret. Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menarik sekitar 5.000 personel militer aktif dari Jerman dalam rentang enam hingga 12 bulan ke depan.
Jumlah ini setara dengan sekitar 14 persen dari total lebih dari 36.000 tentara AS yang saat ini ditempatkan di negara tersebut.
Keputusan ini diklaim sebagai hasil evaluasi strategis. Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, mengatakan langkah tersebut diambil setelah 'peninjauan menyeluruh terhadap postur kekuatan militer di Eropa' serta mempertimbangkan kebutuhan operasional dan kondisi di lapangan.
Mengutip Euronews, Jerman selama ini menjadi salah satu pusat penting militer AS di Eropa. Negara itu menampung sejumlah fasilitas strategis, termasuk markas komando AS untuk kawasan Eropa dan Afrika, Pangkalan Udara Ramstein, hingga pusat medis di Landstuhl yang pernah merawat korban perang dari Afghanistan dan Irak. Selain itu, rudal nuklir AS juga diketahui ditempatkan di wilayah tersebut.
Namun rencana penarikan pasukan ini langsung menuai kritik keras di dalam negeri AS. Senator Jack Reed dari Partai Demokrat memperingatkan bahwa kebijakan tersebut berpotensi menguntungkan Presiden Rusia Vladimir Putin dan melemahkan kepentingan keamanan Amerika.
Menurut Reed, keputusan itu mencerminkan bahwa komitmen AS terhadap sekutu bisa berubah-ubah tergantung suasana hati presiden. Ia mendesak Trump untuk segera menghentikan langkah yang dinilainya gegabah sebelum menimbulkan dampak permanen terhadap aliansi dan keamanan nasional jangka panjang.
Ini bukan kali pertama Trump menggulirkan wacana serupa. Pada masa jabatan pertamanya, ia sempat mengancam akan menarik hampir 10.000 pasukan dari sekitar 34.500 personel yang saat itu ditempatkan di Jerman. Namun rencana tersebut tidak pernah direalisasikan.
Langkah itu kemudian dibatalkan secara resmi oleh Presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden, tak lama setelah ia menjabat pada 2021.
Sejak lama, Trump memang kerap mengkritik peran NATO, terutama karena dianggap tidak cukup membantu Washington dalam konflik global. Ia juga berulang kali menegaskan bahwa Eropa harus mulai bertanggung jawab atas keamanan kawasan mereka sendiri, termasuk dalam isu Ukraina.
Para analis menilai, jika rencana ini benar-benar terealisasi, dampaknya bisa sangat besar. Di tengah situasi global yang semakin tidak stabil, pengurangan kehadiran militer AS di Eropa berisiko melemahkan keseimbangan keamanan dan memperbesar ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.