← Beranda
Donald Trump Murka ke Kanselir Jerman, Ketegangan AS-Eropa Memanas Akibat Perang Iran
Rian AlfiantoMinggu, 3 Mei 2026 | 02.21 WIB
Presiden AS Donald Trump. (Reddit).

 

JawaPos.com - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Jerman kian terbuka setelah Presiden AS Donald Trump melancarkan serangan verbal terhadap Kanselir Jerman Friedrich Merz. Pernyataan keras ini muncul sebagai respons atas kritik Merz yang menyebut Washington terjebak dalam perang Iran tanpa strategi keluar yang jelas.

Trump secara terbuka menegur Merz melalui media sosial, menyarankan agar pemimpin Jerman itu fokus pada persoalan domestik dan Eropa ketimbang mengomentari konflik di Timur Tengah.

“Kanselir Jerman seharusnya lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengakhiri perang Rusia/Ukraina (yang sama sekali tidak efektif!), dan memperbaiki negaranya yang bermasalah, terutama soal imigrasi dan energi,” tulis Trump di media sosial pribadinya.

“Bukan malah ikut campur dalam upaya menghilangkan ancaman nuklir Iran," lanjut Trump.

Baca Juga: PNM Perluas Akses Pendidikan dari Beasiswa hingga Ruang Pintar PNM di Pelosok Negeri 

Trump bahkan membela kebijakan militernya dengan menyebut perang melawan Iran sebagai langkah yang justru membuat dunia lebih aman.

“Perang ini membuat dunia, termasuk Jerman, menjadi tempat yang lebih aman,” tambahnya.

Kritik Merz Picu Retaknya Hubungan Transatlantik

Sebelumnya, Merz melontarkan kritik tajam terhadap strategi AS dalam konflik Iran. Ia menilai Washington masuk perang tanpa perencanaan matang dan kini kesulitan mencari jalan keluar.

“Anda tidak hanya harus masuk, tetapi juga harus keluar. Kita melihatnya di Afghanistan selama 20 tahun, juga di Irak,” kata Merz.

Ia bahkan menyebut Amerika Serikat dipermalukan oleh Iran dalam proses negosiasi, karena Teheran dinilai lebih lihai memainkan taktik diplomasi dan menunda perundingan.

Pernyataan ini langsung memicu reaksi keras dari Trump, yang menyebut Merz 'tidak tahu apa yang dibicarakannya'.

Selain itu, di tengah memanasnya hubungan, Trump juga mengungkapkan bahwa pemerintahannya tengah mempertimbangkan pengurangan jumlah pasukan AS di Jerman, yang selama ini menjadi pilar utama payung keamanan Amerika di Eropa.

Langkah ini menimbulkan kekhawatiran baru terhadap masa depan aliansi NATO. Meski begitu, pemerintah Jerman berusaha meredam ketegangan.

Baca Juga: Utilisasi Industri Semen Anjlok, Solusi Bangun Indonesia Malah Raup Laba

Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menyatakan Berlin siap menghadapi kemungkinan tersebut, sembari menegaskan pentingnya kerja sama dalam NATO.

“Kami siap untuk itu. Kami membahasnya secara erat dan penuh kepercayaan dalam semua forum NATO, dan menunggu keputusan dari pihak Amerika,” katanya mengutip Al-Jazeera.

Kemudian, konflik Iran kini tidak hanya berdampak pada stabilitas Timur Tengah, tetapi juga menguji kekompakan aliansi Barat. Serangan militer yang dilancarkan AS bersama Israel disebut dilakukan tanpa konsultasi dengan sekutu NATO lainnya, memperlebar jurang perbedaan di antara negara-negara Barat.

Trump juga semakin menunjukkan sikap skeptis terhadap NATO, terutama karena blok tersebut menolak terlibat langsung dalam perang Iran atau membantu membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz secara paksa.

Di sisi lain, Trump tetap bersikeras bahwa perang ini penting untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Namun klaim tersebut sempat dipertanyakan bahkan oleh pejabat intelijen AS sendiri.

Meski mendapat kritik tajam, Merz berupaya menjaga hubungan dengan Washington. Ia menegaskan bahwa Jerman tetap berkomitmen pada NATO dan kemitraan transatlantik.

“Kami mengikuti kompas yang jelas, terutama di masa penuh gejolak ini, kompas itu tetap mengarah pada NATO yang kuat dan kemitraan transatlantik yang dapat diandalkan,” ujar Merz.

Namun, dengan perang Iran yang terus berlanjut dan perbedaan pandangan yang makin tajam, hubungan antara AS dan Eropa kini berada dalam tekanan serius, menandai salah satu fase paling tegang dalam aliansi Barat dalam beberapa tahun terakhir.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan