← Beranda
Beijing Terseret, AS Ancam Sanksi Sekunder untuk Bank Pendukung Kilang Tiongkok yang Beli Minyak Iran
Rian AlfiantoKamis, 30 April 2026 | 01.22 WIB
Iran dilaporkan kembali menutup Selat Hormuz hanya beberapa jam setelah jalur vital tersebut sempat dibuka. (UN News)

JawaPos.com - Amerika Serikat (AS) kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan memperluas ancaman sanksi ke sektor perbankan global. Washington memperingatkan bahwa bank-bank yang membantu kilang swasta Tiongkok dalam membeli minyak Iran berisiko terkena sanksi sekunder, langkah yang berpotensi memperkeruh hubungan dengan Beijing menjelang pertemuan tingkat tinggi kedua negara.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan AS untuk memutus jalur ekspor minyak Iran, yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama Teheran. Pekan lalu, Departemen Keuangan AS melalui Office of Foreign Assets Control (OFAC) menjatuhkan sanksi terhadap Hengli Petrochemical (Dalian) Refinery Co, salah satu kilang swasta terbesar di Tiongkok.

Tak berhenti di situ, pada Selasa (28/4), Departemen Keuangan kembali menegaskan bahwa lembaga keuangan yang terlibat dalam perdagangan minyak Iran juga akan menjadi target.

Baca Juga: 8 Tenant Baru di PIM 5 yang Jadi Incaran Warga Jakarta

"Lembaga keuangan harus memberi tahu bahwa departemen tersebut memanfaatkan berbagai alat dan otoritas yang tersedia dan siap untuk menerapkan sanksi sekunder terhadap lembaga keuangan asing yang terus mendukung kegiatan Iran," demikian pernyataan resmi Departemen Keuangan AS di laman resminya.

Pemerintah AS juga meminta bank untuk memperketat pengawasan berbasis risiko, meningkatkan uji tuntas terhadap transaksi. khususnya yang melibatkan kilang di Provinsi Shandong, serta mengingatkan bank koresponden terkait kepatuhan terhadap sanksi.

Respons Tiongkok dan Dampak Global

Tiongkok secara resmi tidak mengakui sanksi sepihak yang dijatuhkan AS. Namun, dalam praktiknya, perusahaan milik negara di Tiongkok cenderung menghindari pembelian minyak yang masuk daftar hitam. Bank-bank besar Tiongkok pun memiliki rekam jejak mematuhi sanksi AS, demi menjaga akses ke sistem kliring dolar AS.

Sebagai contoh, Industrial & Commercial Bank of China Ltd dan Bank of China Ltd sempat membatasi pembiayaan komoditas Rusia pada awal 2022. Kebijakan serupa juga diterapkan setelah AS memperluas sanksi terhadap entitas yang mendukung perang Rusia di Ukraina.

Meski demikian, Tiongkok tetap menjadi konsumen terbesar minyak Iran yang terkena sanksi, terutama melalui kilang-kilang kecil independen yang dikenal sebagai 'teapots'. Kilang ini memanfaatkan harga diskon minyak Iran untuk menjaga margin keuntungan yang tipis.

Diketahui, pengiriman minyak Iran ke Tiongkok kerap menggunakan 'dark tankers' atau kapal tanpa identitas jelas. Minyak tersebut sering dipindahkan antar kapal di tengah laut untuk menyamarkan asalnya, bahkan kerap dilabeli ulang sebagai minyak dari Malaysia, demikian melansir The Edge Singapore.

Dalam beberapa tahun terakhir, OFAC telah menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah perusahaan Tiongkok yang terlibat dalam rantai pasok ini, termasuk sektor pelabuhan, pengiriman, dan pembiayaan. Namun, penjatuhan sanksi terhadap Hengli menjadi langkah signifikan karena menyasar pemain besar dalam industri pengolahan minyak Tiongkok.

Yang jelas, tekanan baru terhadap sektor kilang swasta Tiongkok, yang menyumbang hingga sepertiga kapasitas pengolahan minyak negara itu, berpotensi menambah ketegangan menjelang pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping bulan depan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, menyatakan bahwa AS harus menghentikan penggunaan sanksi secara sewenang-wenang dan yurisdiksi jangka panjang seraya menegaskan bahwa Beijing akan melindungi hak dan kepentingan perusahaan Tiongkok.

Selain itu, Departemen Keuangan AS juga mengumumkan sanksi terhadap 35 entitas dan individu yang terkait dengan jaringan perbankan bayangan Iran, memperluas cakupan tekanan ekonomi terhadap negara tersebut.

Langkah ini menunjukkan bahwa Washington tidak hanya menargetkan sektor energi Iran, tetapi juga jaringan finansial global yang menopangnya, dengan konsekuensi geopolitik yang kian luas.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah