JawaPos.com - lKetegangan politik di dalam negeri Israel kian memanas setelah sejumlah tokoh senior secara terbuka melontarkan kritik tajam terhadap pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Mereka menilai arah kebijakan negara telah melenceng, bahkan menyebut pemerintah saat ini 'membajak' Israel demi kepentingan segelintir elite.
Kritik keras ini disampaikan oleh dua mantan kepala staf militer Israel, Dan Halutz dan Moshe Ya'alon, dalam sebuah artikel opini yang dimuat di harian Haaretz.
“Menjelang peringatan 78 tahun kemerdekaan Israel (menurut kalender Ibrani), dengan pahit kami harus mengatakan: Israel telah dibajak oleh rezim yang memandang sumber daya negara sebagai milik pribadi mereka,” tulis keduanya.
Mereka juga menuding pemerintahan Netanyahu sepenuhnya terputus dari realitas masyarakat. Dalam kritiknya, Halutz dan Ya’alon menyebut negara seolah dijalankan seperti properti pribadi Netanyahu, istrinya Sara, serta Menteri Transportasi Miri Regev.
Tak hanya itu, keduanya turut menyinggung rencana pemilu umum yang diperkirakan berlangsung pada Oktober mendatang. Mereka menyerukan kepada publik untuk mengambil kembali kendali negara dari tangan pemerintah saat ini. “Kami menyerukan kepada masyarakat untuk merebut kembali kendali atas negara,” tegas mereka.
Kritik serupa juga datang dari mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, yang menilai hasil operasi militer Israel, termasuk konflik dengan Iran, jauh dari target yang ditetapkan.
Dalam artikel terpisah di Haaretz, Barak mengakui bahwa musuh Israel memang mengalami pukulan berat. Namun, ia menegaskan bahwa tujuan utama perang tidak tercapai.
“Hamas masih berada di Gaza, dan Hizbullah tetap bertahan di Lebanon,” tulisnya.
Barak juga menyoroti bahwa rezim di Teheran tetap bertahan meski telah menghadapi serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat. Ancaman nuklir dan rudal balistik Iran pun disebut belum berhasil dieliminasi.
Ia menyebut situasi ini sebagai kegagalan strategis dan politik yang serius, terutama jika melihat ekspektasi bahwa Israel dan Amerika Serikat seharusnya keluar sebagai pemenang dominan.
Lebih jauh, Barak menilai posisi Israel kini justru melemah di hadapan sekutunya sendiri.
“Israel telah menjadi negara yang berada di bawah bayang-bayang Amerika Serikat, yang memaksakan keputusan operasional dan diplomatik melalui arahan keras, bahkan terkadang memalukan,” lanjutnya.
Sebagaimana diketahui, dalam beberapa bulan terakhir, Israel terlibat dalam berbagai operasi militer di kawasan. Serangan ke Lebanon sejak 2 Maret dilaporkan menewaskan lebih dari 2.200 orang, melukai ribuan lainnya, dan memaksa lebih dari satu juta warga mengungsi.
Konflik dengan Iran juga memakan korban besar, dengan lebih dari 3.000 orang dilaporkan tewas sejak perang dimulai pada akhir Februari. Gencatan senjata sementara sempat tercapai melalui mediasi internasional, namun situasi tetap rapuh.
Baca Juga: Erdogan Beri Peringatan Keras ke Israel, Sebut Netanyahu Dibutakan Darah dan Kebencian
Tekanan dari dalam negeri yang kini datang dari para tokoh senior menambah beban politik bagi Netanyahu, terutama menjelang momentum pemilu yang semakin dekat. Kritik terbuka ini dinilai dapat memengaruhi persepsi publik terhadap kepemimpinan pemerintah di tengah krisis berkepanjangan. (*)