JawaPos.com - Ketegangan di tubuh militer Amerika Serikat (AS) kembali mencuat di tengah situasi geopolitik yang memanas dengan Iran. Menteri Angkatan Laut AS, John Phelan, dilaporkan dipecat dari jabatannya secara mendadak oleh Donald Trump.
Kasus tersebut menambah daftar panjang pergolakan internal di Pentagon selama masa konflik. Sumber yang mengetahui langsung persoalan ini menyebutkan, pencopotan Phelan terjadi pada Rabu (22/4) waktu setempat.
Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari 'perombakan masa perang' yang terus bergulir, hanya beberapa pekan setelah Menteri Pertahanan Pete Hegseth memberhentikan jenderal tertinggi Angkatan Darat AS.
Dalam pernyataan resmi, Pentagon tidak secara gamblang menyebutkan alasan di balik keputusan tersebut. Mereka hanya menyampaikan bahwa Phelan 'meninggalkan pemerintahan, efektif segera', tanpa rincian tambahan. Laporan awal terkait pemecatan ini pertama kali diungkap oleh Reuters.
Baca Juga: 8 Kebiasaan yang Membuat Kamu Lebih Hoki dan Mudah Sukses Menurut Psikologi
Juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, menyampaikan apresiasi atas kontribusi Phelan. “Atas nama Menteri Perang dan Wakil Menteri Perang, kami berterima kasih kepada Sekretaris Phelan atas pengabdiannya kepada Departemen dan Angkatan Laut Amerika Serikat,” ujarnya.
Ia juga menambahkan harapan agar Phelan sukses dalam langkah berikutnya.
Sebagai pengganti sementara, Wakil Menteri Angkatan Laut Hung Cao akan mengemban tugas sebagai pelaksana harian (acting secretary).
Penunjukan ini dilakukan untuk menjaga kesinambungan komando di tengah situasi yang sensitif.
Untuk diketahui juga, pencopotan ini bukan kasus tunggal. Sebelumnya, pada 2 April lalu, Hegseth juga memecat Kepala Staf Angkatan Darat, Randy George, tanpa penjelasan resmi. Dua pejabat AS menyebut keputusan itu berkaitan dengan ketegangan internal antara Hegseth dan Menteri Angkatan Darat Daniel Driscoll.
Gelombang pergantian pejabat tinggi ini memperlihatkan adanya dinamika serius di dalam tubuh Pentagon. Dalam setahun terakhir, sejumlah posisi strategis juga mengalami perombakan, termasuk Ketua Gabungan Kepala Staf sebelumnya, Jenderal Angkatan Udara C.Q. Brown, serta pimpinan operasi Angkatan Laut dan wakil kepala staf Angkatan Udara.
Situasi ini terjadi di tengah gencatan senjata yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran. Di saat yang sama, Washington terus memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah, khususnya melalui pengerahan aset Angkatan Laut.
Militer AS kini sangat bergantung pada kekuatan laut untuk menjalankan blokade terhadap Iran. Strategi ini didorong oleh Presiden Donald Trump yang berharap tekanan tersebut dapat memaksa Teheran kembali ke meja perundingan sesuai dengan kepentingan Washington.