← Beranda
Iran Sebut Blokade Trump sebagai Penghambat Utama Negosiasi Saat Gencatan Senjata Masih Bertahan
Risma Azzah Fatin• Kamis, 23 April 2026 | 21.46 WIB
Garda Revolusi Iran (IRGC) memamerkan rudal balistik dalam demonstrasi di pusat kota Teheran (Al-Jazeera)

JawaPos.com – Iran menyalahkan kebijakan blokade yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebagai penyebab utama kebuntuan diplomatik di tengah situasi gencatan senjata yang masih rapuh.

Dilansir dari laman Al-Jazeera pada Kamis (23/4), Para pejabat Teheran menilai langkah tersebut menghambat upaya negosiasi damai yang tengah diupayakan kedua pihak.

Ketegangan pun terus meningkat meski konflik bersenjata untuk sementara berhasil diredam.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa tidak akan ada gencatan senjata penuh selama blokade maritim AS terhadap Iran masih diberlakukan.

Gjalibaf menyebut kebijakan tersebut sebagai bentuk tekanan yang tidak dapat diterima dalam proses diplomasi. Menurutnya, Iran tidak akan tunduk pada intimidasi yang dilakukan oleh Washington maupun sekutunya.

Ghalibaf menilai blokade tersebut sebagai bentuk “penyanderaan ekonomi” yang berdampak luas pada perdagangan global. Pernyataan itu sekaligus mempertegas posisi Iran yang tetap bersikukuh mempertahankan kebijakannya.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, turut menyuarakan pandangan serupa dengan menekankan pentingnya dialog dibanding tekanan militer.

Pezeshkian menyatakan bahwa Iran terbuka terhadap perundingan damai, tetapi menolak pendekatan yang disertai ancaman dan sanksi. Menurutnya, pelanggaran komitmen oleh pihak lawan justru menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan.

Perpanjangan masa gencatan senjata dilakukan setelah Iran memutuskan tidak menghadiri perundingan di Pakistan sebagai bentuk protes. Keputusan tersebut menambah ketidakpastian terhadap kelanjutan proses diplomasi di masa mendatang.

Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir-Saeid Iravani, menegaskan bahwa pencabutan blokade menjadi syarat utama agar negosiasi dapat berjalan kembali. Ia menyatakan bahwa Iran siap berdialog jika kondisi yang adil terpenuhi.

Namun, tanpa adanya perubahan kebijakan dari Amerika Serikat, peluang kesepakatan dinilai semakin kecil.

Sementara itu, pihak Gedung Putih menyatakan bahwa blokade tetap dipertahankan sebagai alat tekanan dalam negosiasi. Presiden Donald Trump bahkan disebut puas dengan dampak ekonomi yang ditimbulkan terhadap Iran.

Pernyataan tersebut semakin memperjelas perbedaan sikap antara kedua negara dalam menyikapi konflik yang berlangsung.

Situasi saat ini digambarkan sebagai kondisi “tanpa perang, tanpa perdamaian” yang penuh ketidakpastian. Aktivitas ekonomi dan stabilitas kawasan turut terdampak akibat belum adanya solusi konkret.

Dengan blokade yang masih berlaku dan negosiasi yang mandek, risiko konflik kembali memanas tetap terbuka lebar.

EDITOR: Hanny Suwindari