JawaPos.com - Seorang komandan elite Hizbullah dilaporkan tewas dalam serangan di Lebanon selatan. Hal tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap keberlangsungan gencatan senjata yang masih rapuh di kawasan yang tengah panas karena perang Amerika Serikat (AS) dan Iran dikompori oleh sekutunya, Israel.
Insiden ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah situasi keamanan yang belum stabil di perbatasan Israel-Lebanon. Mengutip laporan media Israel, Ali Reza Abbas, tokoh militer penting Hizbullah, tewas dalam serangan yang menyasar wilayah strategis Bint Jbeil.
Abbas, yang dikenal dengan julukan 'Hajj Abu Hussein Barish', disebut sebagai salah satu arsitek strategi militer kelompok tersebut.
Mengutip berbagai sumber, Abbas dilaporkan memiliki peran penting dalam struktur komando Pasukan Radwan, unit elit Hizbullah yang dikenal memiliki kapabilitas tempur tinggi.
Sepanjang 2024, ia disebut memegang posisi krusial dalam kepemimpinan unit tersebut, menjadikannya salah satu figur berpengaruh di lingkaran militer Hizbullah.
Kematian Abbas menandai salah satu serangan paling signifikan terhadap petinggi Hizbullah sejak eskalasi konflik terbaru di kawasan perbatasan.
Sementara itu, melansir Voice of Emirates, militer Israel menyatakan operasi tersebut merupakan respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Hizbullah.
Pasukan yang ditempatkan di selatan 'garis kuning' mengklaim mendeteksi pergerakan dari arah utara yang dianggap sebagai ancaman langsung.
Sebagai respons, angkatan udara dan artileri Israel dikerahkan untuk menyerang target yang disebut sebagai infrastruktur milik Hizbullah di Lebanon selatan.
Serangan ini juga disebut sebagai pembunuhan pertama terhadap komandan berpangkat tinggi sejak kesepahaman gencatan senjata mulai berlaku pada pekan lalu.
Peristiwa ini dinilai berpotensi memperburuk situasi keamanan di kawasan. Tewasnya figur kunci seperti Abbas bisa memicu respons balasan dari Hizbullah dan membuka kemungkinan eskalasi konflik yang lebih luas.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya menyebut tahun ini sebagai 'ujian besar' bagi Israel, menandakan bahwa dinamika keamanan regional masih penuh ketidakpastian.
Israel juga menegaskan memiliki 'otorisasi penuh' untuk menindak setiap ancaman dari perbatasan, memperkuat sinyal bahwa ketegangan di wilayah tersebut masih jauh dari mereda.