JawaPos.com - Ketegangan di Lebanon kembali memanas setelah seorang tentara Perancis yang bertugas dalam misi penjaga perdamaian PBB tewas dalam serangan bersenjata di wilayah selatan negara itu. Insiden ini juga melukai tiga personel lainnya, dua di antaranya dilaporkan dalam kondisi serius.
Misi penjaga perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) mengungkapkan bahwa serangan terjadi di desa Ghandouriyeh pada Sabtu (18/4) waktu setempat. Berdasarkan penilaian awal, pelaku diduga berasal dari kelompok non-negara, yang mengarah pada Hizbullah.
UNIFIL menyebut insiden tersebut sebagai 'serangan yang disengaja' dan memastikan investigasi telah diluncurkan untuk mengungkap pelaku serta motif di balik aksi tersebut.
Baca Juga: Ramalan Shio Besok Senin 20 April 2026: Tikus, Kerbau, Macan, Kelinci
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam keras insiden ini. Dalam komunikasi dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam, Macron menyebut serangan tersebut sebagai tidak dapat diterima.
Ia juga menegaskan bahwa bukti awal mengarah pada kelompok bersenjata Lebanon tersebut, dan mendesak pemerintah Lebanon untuk segera mengambil tindakan terhadap pihak yang bertanggung jawab.
Namun, Hizbullah membantah tuduhan tersebut. Dalam pernyataannya, kelompok yang bersekutu dengan Iran itu meminta semua pihak untuk berhati-hati dalam menarik kesimpulan.
“Kami menyangkal adanya keterlibatan dalam insiden yang terjadi dengan pasukan UNIFIL di wilayah Ghandouriyeh,” tegas Hizbullah.
Sementara mengutip Al-Jazeera, Menteri Angkatan Bersenjata Perancis Catherine Vautrin menjelaskan bahwa patroli yang diserang saat itu tengah menjalankan misi membuka akses menuju pos UNIFIL yang terisolasi akibat pertempuran. Tentara yang tewas dilaporkan terkena tembakan senjata ringan secara langsung.
Baca Juga: Thomas-Uber 2026: Enam Lapangan Jadi Tumpuan, Indonesia Mantapkan Perburuan
Pihak militer Lebanon turut mengecam penembakan tersebut dan menyatakan telah membuka penyelidikan. Presiden Aoun juga menyampaikan belasungkawa serta memerintahkan investigasi segera.
Untuk diketahui, insiden berdarah ini terjadi hanya beberapa hari setelah gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon mulai berlaku. Situasi semakin genting karena masa gencatan senjata dalam konflik Amerika Serikat–Israel melawan Iran juga mendekati batas akhir.
Konflik regional ini memanas sejak awal Maret, ketika Hezbollah meluncurkan roket ke Israel sebagai respons atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei oleh AS dan Israel pada 28 Februari.
Israel kemudian membalas dengan serangan besar-besaran, termasuk operasi darat, yang menewaskan lebih dari 2.000 orang dan memaksa sekitar 1,2 juta warga mengungsi.