JawaPos.com - Pemerintah Tiongkok menyerukan Israel dan Lebanon untuk menunjukkan tanggung jawab penuh dalam menjaga gencatan senjata 10 hari yang baru saja berlaku. Seruan ini muncul di tengah laporan pelanggaran di lapangan yang mengancam meruntuhkan kesepakatan sejak dini.
Mengutip YeniSafak, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, menegaskan bahwa Beijing menyambut baik setiap upaya yang dapat menghentikan konflik dan menciptakan perdamaian jangka panjang di kawasan Timur Tengah.
DiA menyebut kalau Tiongkok mendorong semua pihak untuk memenuhi kewajiban mereka, menjaga momentum diplomasi, dan menyelesaikan konflik melalui dialog damai, bukan konfrontasi bersenjata.
Kesepakatan penghentian sementara permusuhan selama 10 hari ini merupakan hasil mediasi Amerika Serikat yang diumumkan Presiden Donald Trump. Gencatan senjata mulai berlaku pada Kamis (16/4) malam waktu setempat, setelah perundingan intensif di Washington.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Aries 18 April 2026: Mulai dari Cinta, Karir, Kesehatan dan Keuangan
Kesepakatan tersebut diharapkan menjadi jendela penting untuk bantuan kemanusiaan sekaligus membuka jalan bagi negosiasi lanjutan antara Israel dan Lebanon.
Namun, harapan itu langsung diuji. Militer Lebanon pada Jumat (17/4) melaporkan adanya pelanggaran oleh Israel hanya beberapa jam setelah gencatan senjata berlaku, termasuk penembakan artileri sporadis ke desa-desa di selatan.
Pihak militer pun meminta warga sipil menunda kepulangan ke wilayah terdampak karena situasi masih belum aman. Hingga kini, belum ada respons resmi dari Israel terkait tuduhan tersebut.
Pelanggaran awal ini menegaskan rapuhnya gencatan senjata di tengah konflik yang lebih luas di kawasan. Perang regional yang melibatkan Iran, Israel, dan sekutunya telah berlangsung sejak 28 Februari, ketika serangan gabungan AS-Israel memicu eskalasi besar.
Konflik tersebut kemudian meluas ke Lebanon setelah kelompok Hezbollah melancarkan serangan ke Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Iran, yang dibalas dengan operasi militer besar-besaran oleh Israel.
Dalam enam pekan terakhir, serangan terhadap posisi Hezbollah telah menyebabkan sekitar 2.200 korban jiwa dan memaksa lebih dari satu juta warga Lebanon mengungsi.
Sementara itu, seruan Beijing mencerminkan meningkatnya peran Tiongkok dalam diplomasi Timur Tengah. Negara tersebut secara konsisten mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik dan menolak pendekatan militer.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Aquarius dan Pisces 18 April 2026: Mulai dari Cinta, Karir, Kesehatan dan Keuangan
Selain isu Lebanon, Guo Jiakun juga menegaskan penolakan Tiongkok terhadap sanksi ekonomi sepihak yang dijatuhkan Amerika Serikat terhadap Venezuela. Ia menyebut langkah tersebut tidak memiliki dasar hukum internasional dan melanggar prinsip Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Beijing menegaskan bahwa kerja sama ekonomi dengan Venezuela adalah sah dan harus dilindungi dari intervensi pihak luar.