JawaPos.com - Gelombang kekerasan mengguncang dunia pendidikan di Turki setelah dua insiden penembakan terjadi secara beruntun dalam waktu kurang dari 24 jam.
Tragedi terbaru terjadi pada Rabu (15/4) waktu setempat di provinsi Kahramanmaras, menewaskan sembilan orang dan melukai 13 lainnya.
Gubernur Kahramanmaraş, Mukerrem Unluer, mengungkapkan bahwa korban tewas terdiri dari seorang guru dan tiga siswa dalam serangan di Ayser Calık Secondary School.
“Seorang siswa datang ke sekolah membawa senjata yang kami yakini milik ayahnya di dalam tasnya. Ia masuk ke dua ruang kelas dan melepaskan tembakan secara acak, menyebabkan korban luka dan meninggal,” ujar Unluer kepada wartawan.
Melansir via Euronews, saksi mata menggambarkan situasi yang mencekam. Suara tembakan terdengar intens dari dalam sekolah, memicu kepanikan massal.
Baca Juga: Siap-Siap! Bocoran Tahapan Seleksi CPNS 2026 dan Passing Grade Terbaru
Orang tua siswa yang mengetahui kejadian itu langsung bergegas menuju lokasi, sementara aparat kepolisian memperketat pengamanan di sekitar sekolah. Rekaman televisi menunjukkan ambulans bersiaga untuk mengevakuasi korban.
Menteri Kehakiman Turki, Akin Gurlek, menyatakan bahwa kantor kejaksaan setempat telah membuka penyelidikan menyeluruh atas insiden tersebut.
Seperti sudah disinggung di atas, tragedi ini terjadi hanya sehari setelah penembakan lain di distrik Siverek, provinsi Sanliurfa.
Dalam kejadian sebelumnya, seorang mantan siswa berusia 19 tahun menembaki sekolah lamanya menggunakan shotgun, melukai 16 orang sebelum bunuh diri saat dikepung polisi.
Gubernur Sanliurfa, Hasan Sildak, mengatakan korban luka terdiri dari 10 siswa, empat guru, satu petugas polisi, dan seorang pegawai kantin.
“Pelaku berhasil dipojokkan di dalam gedung oleh polisi dan meninggal setelah menembak dirinya sendiri,” kata Sildak, seraya menambahkan bahwa penyelidikan komprehensif sedang dilakukan.
Rangkaian dua insiden berdarah ini mengejutkan publik Turki, mengingat penembakan di lingkungan sekolah tergolong jarang terjadi di negara tersebut.
Kejadian beruntun ini memicu kekhawatiran serius soal keamanan sekolah serta pengawasan terhadap akses senjata, khususnya di kalangan remaja.
Otoritas kini menghadapi tekanan untuk segera mengevaluasi sistem keamanan pendidikan guna mencegah tragedi serupa terulang kembali.