JawaPos.com - Aksi penembakan brutal mengguncang sebuah sekolah menengah atas di wilayah tenggara Turki, tepatnya di Sanliurfa, pada Selasa (14/4) waktu setempat.
Seorang remaja bersenjata melepaskan tembakan secara membabi buta hingga melukai sedikitnya 16 orang, termasuk siswa dan guru, sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri.
Pelaku diketahui merupakan mantan siswa berusia 19 tahun. Ia melakukan serangan di distrik Siverek dengan menggunakan senapan jenis shotgun.
Baca Juga: Pelecehan Seksual FH UI Terjadi Sejak Tahun 2025, Korban Takut Lapor karena Pelaku Punya Jabatan
Mengutip Reuters, informasi ini disampaikan langsung oleh Gubernur Sanliurfa, Hasan Sildak. Menurut Sildak, pelaku mulai menembak secara acak di halaman sekolah sebelum masuk ke dalam gedung dan melanjutkan aksinya.
“Penyerang melepaskan tembakan tanpa pandang bulu,” ujarnya kepada wartawan. Ia menambahkan, pelaku mengakhiri hidupnya saat aparat kepolisian berusaha melakukan penangkapan.
Rekaman kamera pengawas memperlihatkan momen mencekam saat pelaku mengarahkan senjata ke arah orang-orang di koridor sekolah. Dalam video tersebut juga terlihat kepanikan siswa yang berlarian keluar gedung saat ambulans dan kendaraan polisi tiba di lokasi.
Seorang saksi mata yang enggan disebutkan namanya menggambarkan situasi saat kejadian berlangsung.
“Dia menembak siapa saja yang ada di depannya. Saat siswa dan guru berteriak, semua langsung berhamburan menyelamatkan diri,” ujarnya.
Pihak berwenang mengungkapkan bahwa pelaku tidak memiliki catatan kriminal sebelumnya. Bahkan, sekolah tersebut sebelumnya telah dikategorikan sebagai area yang aman oleh kepolisian.
Seluruh korban luka segera dilarikan ke rumah sakit. Lima di antaranya kemudian dirujuk ke fasilitas medis di pusat kota Sanliurfa untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Salah satu korban, seorang guru, dilaporkan dalam kondisi kritis.
Kementerian Dalam Negeri Turki merinci bahwa dari total korban luka, 10 di antaranya adalah siswa, empat guru, satu anggota polisi, serta satu pegawai kantin sekolah.
Peristiwa ini menambah daftar panjang insiden kekerasan di lingkungan pendidikan yang memicu kekhawatiran global terhadap keamanan sekolah, bahkan di wilayah yang sebelumnya dinilai aman.