← Beranda
Tiongkok Kecam Aksi Sepihak AS Blokade Selat Hormuz: "Berbahaya dan Tidak Bertanggung Jawab"
AntaraRabu, 15 April 2026 | 00.55 WIB
FAO mengeluarkan peringatan, gangguan pada pelayaran di Selat Hormuz berpotensi memicu krisis pangan dunia. (Freepik)

 

JawaPos.com - Tiongkok melontarkan kritik keras terhadap langkah sepihak Amerika Serikat (AS) memblokade jalur pelayaran Iran di Selat Hormuz. Beijing menyebut kebijakan tersebut sebagai tindakan egois yang berisiko memperparah konflik.

Melalui Kementerian Luar Negeri, pemerintah Tiongkok secara tegas menyebut blokade yang dilakukan Washington sebagai tindakan 'dangerous and irresponsible act' yang dapat semakin menyulut ketegangan kawasan. 

Kebijakan tersebut sebelumnya dilaporkan mulai berlaku pada Senin (13/4) dan menargetkan kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran di jalur vital perdagangan energi dunia.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, mengutip CNBC Internasional, menyampaikan bahwa langkah AS berpotensi merusak situasi gencatan senjata yang sudah rapuh. 

"China percaya bahwa hanya dengan mencapai gencatan senjata yang komprehensif dan mengakhiri perang, kita dapat secara mendasar menciptakan kondisi untuk meredakan situasi di selat," katanya dalam sebuah pernyataan.

Dia juga menambahkan bahwa Beijing akan terus berupaya mendorong stabilitas di Timur Tengah.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa Tiongkok menilai kebijakan AS justru kontraproduktif terhadap upaya perdamaian. Dalam pernyataan resminya, Beijing juga menyerukan semua pihak untuk menghormati kesepakatan gencatan senjata dan kembali ke jalur dialog.

"China mendesak semua pihak untuk mematuhi pengaturan gencatan senjata, fokus pada arah umum dialog dan pembicaraan damai, mengambil tindakan praktis untuk mempromosikan pelonggaran situasi regional, dan memulihkan lalu lintas normal di selat sesegera mungkin," lanjut Guo Jiakun.

Langkah AS sendiri dijalankan oleh US Central Command (Centcom) dengan mencegah kapal-kapal memasuki atau keluar dari pelabuhan Iran. Kebijakan ini diambil setelah perundingan AS-Iran di Islamabad gagal mencapai kesepakatan, sekaligus menjadi eskalasi baru meski sebelumnya sempat ada jeda konflik pada 7 April.

Di sisi lain, Iran memperingatkan bahwa kebijakan ini akan berdampak langsung pada masyarakat global, terutama melalui kenaikan harga energi. Teheran juga menegaskan siap membalas jika terjadi eskalasi militer lebih lanjut.

Meski demikian, Tiongkok membantah tudingan bahwa mereka memasok senjata ke Iran. Guo Jiakun menyebut laporan tersebut sebagai 'sepenuhnya dibuat-buat'.

Sementara itu, pasar energi global mulai merespons dinamika terbaru. Harga minyak sempat turun di bawah USD 100 per barel di tengah harapan solusi diplomatik. Minyak Brent diperdagangkan di kisaran USD 98,44, sementara West Texas Intermediate berada di sekitar USD 96,48 per barel.

Namun, ketidakpastian masih membayangi. Blokade di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sebagian besar perdagangan minyak dunia, berpotensi memicu lonjakan harga sewaktu-waktu jika konflik kembali memanas.

Baca Juga: Jadi Korban Serangan AS-Israel, Iran Tuntut Negara Arab Bayar Ganti Rugi atas Serangan ke Teheran

Dengan posisi AS yang terus menekan Iran dan Tiongkok yang menyerukan deeskalasi, krisis ini kini berkembang menjadi bukan hanya konflik regional, tetapi juga ajang tarik-menarik kekuatan global yang dapat berdampak luas pada ekonomi dunia.

 

EDITOR: Kuswandi