Presiden Amerika Serikat itu menilai pemimpin Gereja Katolik tersebut tidak menjalankan perannya secara optimal dan terlalu condong pada pandangan liberal.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat kembali ke Washington dari Florida, Minggu (12/4) malam waktu setempat.
Melalui unggahan di media sosial dan pernyataan kepada wartawan, ia secara terbuka mengaku tidak menyukai kepemimpinan Paus Leo.
“Menurut saya, kepemimpinannya kurang tegas, terutama dalam isu keamanan dan kebijakan global,” ujar Trump dalam pernyataan yang dikutip ulang dari komentarnya kepada media.
Serangan Donald Trump terhadap persona Paus Leo muncul tak lama setelah Paus Leo menyampaikan kritik tersirat terhadap konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Dalam sebuah doa malam di Basilika Santo Petrus, Vatikan, Paus menyinggung bahaya 'ilusi kekuasaan tanpa batas' yang dinilai memperburuk konflik global.
Meski tidak menyebut nama Trump secara langsung, pesan tersebut dipahami banyak pihak sebagai sindiran terhadap kebijakan militer AS. Hal ini kemudian memicu respons keras dari Trump.
Presiden AS itu menilai pandangan Paus berpotensi melemahkan posisi Amerika dalam isu strategis, terutama terkait ancaman nuklir Iran.
Ia juga menegaskan tidak sepakat dengan pandangan yang dianggap lemah terhadap negara tersebut.
Tak hanya soal Iran, Trump turut menyinggung sikap Paus terhadap kebijakan luar negeri AS lainnya, termasuk intervensi di Venezuela.
Trump Pakai Dalih Stabilitas Kawasan
Ia menyatakan bahwa langkah pemerintahannya dilakukan demi kepentingan keamanan nasional dan stabilitas kawasan.
Dalam pernyataannya, Trump juga menilai Paus seharusnya fokus pada urusan keagamaan, bukan terlibat dalam dinamika politik global.
“Pemimpin agama semestinya menjadi penuntun moral, bukan aktor politik,” ujarnya dalam salah satu komentar.
Ketegangan antara Vatikan dan Gedung Putih sebenarnya bukan hal baru. Namun, pernyataan terbuka dengan nada setajam ini tergolong jarang terjadi, apalagi melibatkan pemimpin tertinggi Gereja Katolik.
Di sisi lain, Trump diketahui memiliki basis kuat di kalangan pemilih religius konservatif.
Dalam pemilu 2024, ia meraih dukungan signifikan dari komunitas Katolik, meski pemerintahannya juga dekat dengan kelompok evangelis.
Sementara itu, pernyataan dari kalangan pemerintahan AS juga menunjukkan pendekatan religius dalam konflik geopolitik.
Beberapa pejabat bahkan mengaitkan operasi militer dengan nilai-nilai keimanan.
Baca Juga: Paus Leo Dukung Gencatan Senjata AS-Iran, Serukan Dialog di Tengah Konflik yang Masih Membara
Meski demikian, di tengah polemik tersebut, Paus Leo XIV tetap menyuarakan pesan perdamaian.
Dalam beberapa kesempatan, ia menegaskan bahwa kekerasan dan perang tidak sejalan dengan nilai spiritual.
Ia juga mengingatkan bahwa doa tidak akan bermakna jika disertai tindakan yang merusak kemanusiaan.
Pesan tersebut kembali menegaskan posisi Vatikan sebagai pihak yang mendorong resolusi damai di tengah konflik global.
Ketegangan ini diperkirakan masih akan berlanjut, terutama di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks dan sensitif.
Baca Juga: Paus Leo XIV Tegaskan, Ancaman AS Terhadap Iran Tidak Bisa Diterima