JawaPos.com - Kepala militer Uganda, Muhoozi Kainerugaba, menuai sorotan internasional setelah melontarkan pernyataan kontroversial terkait konflik global.
Dalam serangkaian unggahan di platform X, ia mengklaim siap mengerahkan hingga 100 ribu tentara Uganda untuk membela Israel.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam dua unggahan berbeda dalam waktu berdekatan. Dalam unggahan pertamanya, Kainerugaba menegaskan kesiapannya untuk memimpin langsung pasukan Uganda ke Israel.
Baca Juga: Tenis Putri Indonesia Lolos Playoff Piala Billie Jean King, PELTI Siapkan Program Lanjutan
“Saya siap mengerahkan 100.000 tentara Uganda ke Israel. Di bawah komando saya. Untuk melindungi Tanah Suci. Tanah Yesus Kristus, Tuhan kita!” tulisnya.
Namun, pernyataan yang lebih mengejutkan datang beberapa jam kemudian. Ia mengklaim memiliki ratusan ribu pemuda 'haus perang' yang siap bertempur, bahkan menyebut ibu kota Iran, Tehran, sebagai target.
“Saya punya sekitar 500.000 pemuda yang haus perang. Yang mereka inginkan hanya uang. Mereka bisa ‘melahap’ Teheran secara gratis,” tulisnya.
Baca Juga: Kian Memanas, Pasukan Israel Diperintahkan Bersiap Melawan Iran Jika Perang Berlanjut
Sikap vokal Kainerugaba bukan hal baru. Pada Maret 2026, ia juga menyatakan bahwa setiap upaya untuk menghancurkan Israel akan menyeret Uganda ke dalam konflik di pihak Israel.
Sebagai putra Presiden Uganda, Yoweri Museveni, Kainerugaba memang dikenal luas sebagai figur yang kerap memancing perhatian lewat pernyataan-pernyataan blak-blakan di media sosial.
Selain soal Israel, ia juga pernah menawarkan intervensi militer di Haiti hingga meminta pembayaran besar dari Amerika Serikat untuk keterlibatan Uganda dalam berbagai konflik.
Di dalam negeri, pria berusia 51 tahun tersebut menjabat sebagai kepala Uganda People’s Defence Force (UPDF) dan disebut-sebut sebagai kandidat kuat penerus kepemimpinan Uganda di masa depan.
Meski demikian, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Uganda terkait klaim pengerahan pasukan tersebut.
Banyak pihak menilai pernyataan Kainerugaba lebih mencerminkan gaya komunikasi personalnya yang kontroversial, ketimbang kebijakan resmi negara.
Pernyataan ini pun memicu beragam reaksi di kancah internasional, terutama di tengah situasi geopolitik yang tengah memanas di Timur Tengah.