← Beranda
Trump Ancam Tiongkok dengan Sanksi Berat jika Kirim Senjata ke Iran di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah
Mellyna Putri DiniarSenin, 13 April 2026 | 00.10 WIB
Donald Trump ancam konsekuensi besar jika Tiongkok kirim senjata ke Iran. Foto: (NewsWeek)

JawaPos.com — Ancaman terbuka dilontarkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kepada Tiongkok, menyusul laporan intelijen yang mengindikasikan Beijing tengah bersiap mengirim sistem senjata ke Iran. 

Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan sinyal keras bahwa Washington siap mengambil langkah ekonomi agresif di tengah situasi Timur Tengah yang belum stabil pascagelombang serangan militer antara Iran, Amerika Serikat, dan sekutunya.

Trump secara terbuka memperingatkan konsekuensi serius bagi Beijing jika laporan tersebut terbukti benar. Dalam keterangannya kepada wartawan saat meninggalkan Gedung Putih menuju Miami, ia menegaskan, “Jika Tiongkok melakukan itu, mereka akan menghadapi masalah besar.” Pernyataan ini menambah eskalasi retorika di tengah hubungan Washington–Beijing yang sudah tegang.

Baca Juga: Melania Trump Bantah Tidak Pernah Memiliki Hubungan dengan Jeffrey Epstein

Dilansir dari Newsweek, Minggu (12/4/2026), laporan CNN yang mengutip tiga sumber yang memahami penilaian intelijen terbaru mengungkap indikasi bahwa pemerintah Tiongkok tengah mempersiapkan pengiriman sistem pertahanan udara ke Teheran dalam beberapa pekan mendatang. Informasi ini memicu kekhawatiran baru terkait potensi perluasan konflik di kawasan.

Sebagai konteks, ketegangan meningkat tajam sejak akhir Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target militer strategis di Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah pejabat penting lainnya. Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone ke Israel serta beberapa negara Teluk Arab yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.

Dalam situasi tersebut, dugaan keterlibatan langsung Tiongkok melalui pengiriman senjata dinilai berpotensi memperdalam konflik sekaligus memicu dampak geopolitik yang lebih luas. Hubungan AS–Tiongkok sendiri telah berada dalam tekanan akibat sengketa perdagangan, rivalitas militer, dan dinamika perang di Iran.

Lebih lanjut, sistem yang dilaporkan akan dikirim mencakup rudal anti-pesawat portabel atau MANPADS (Man-Portable Air Defense Systems), yang dikenal efektif menargetkan pesawat terbang rendah. Jika benar dikirim, sistem ini dapat memperkuat kemampuan pertahanan udara Iran yang sebelumnya melemah akibat serangan intensif selama lima pekan.

Intelijen AS juga mencurigai bahwa pengiriman tersebut dapat dilakukan melalui negara ketiga untuk menyamarkan asalnya. Dugaan ini memperkuat kekhawatiran bahwa Teheran tengah berupaya memulihkan kapasitas militernya secara cepat di tengah tekanan internasional.

Namun, pihak Tiongkok membantah keras tuduhan tersebut. Juru bicara Kedutaan Besar Tiongkok di Washington menyatakan bahwa Beijing “tidak pernah memasok senjata kepada pihak mana pun dalam konflik ini” serta menyebut laporan tersebut tidak benar. Tiongkok juga menegaskan perannya dalam mendorong de-eskalasi dan mendukung upaya diplomatik, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur vital energi global.

Di sisi lain, Trump sebelumnya telah mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi besar terhadap negara mana pun yang terbukti memasok senjata ke Iran. Ia bahkan menyebut kemungkinan penerapan tarif impor sebesar 50 persen tanpa pengecualian. “Negara-negara ini akan membayar harga yang sangat mahal,” tulisnya dalam pernyataan terpisah.

Isu ini semakin kompleks mengingat Iran selama ini kerap dituduh menerima dukungan teknologi militer dari Tiongkok dan Rusia, meskipun kedua negara tersebut berulang kali membantah. Teheran sendiri menegaskan bahwa kekuatan militernya dikembangkan secara mandiri dan menolak tuduhan ketergantungan pada bantuan luar.

Ketegangan semakin meningkat setelah insiden 3 April lalu, ketika sebuah jet tempur AS ditembak jatuh di wilayah Iran. Meski tidak mengungkap asal sistem persenjataan yang digunakan, pejabat Iran menyebut penggunaan teknologi pertahanan udara baru atau yang telah ditingkatkan, mempertegas bahwa kapasitas militer mereka masih signifikan.

Ke depan, situasi akan sangat bergantung pada jalannya negosiasi antara delegasi AS dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan akhir pekan ini. Upaya tersebut bertujuan memperpanjang gencatan senjata yang masih rapuh. Meski serangan langsung menurun, ketegangan tetap tinggi, terutama karena lalu lintas energi melalui Selat Hormuz belum sepenuhnya stabil—menjadikan kawasan ini tetap sebagai titik rawan dalam dinamika geopolitik global.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho