← Beranda
Negosiasi di Islamabad Buntu, Delegasi AS Tinggalkan Pakistan Tanpa Kejelasan:  Gencatan Senjata 2 Pekan Terancam Gagal
Rian AlfiantoMinggu, 12 April 2026 | 17.35 WIB
Seorang petugas polisi berjalan melewati papan iklan mengenai negosiasi Amerika Serikat dan Iran, di luar pusat fasilitasi media di Islamabad, Pakistan, Sabtu, 11 April 2026. (Anjum Naveed/AP).

 

JawaPos.com - Upaya diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menemui jalan terjal. Setelah maraton perundingan selama hampir sehari penuh di Islamabad, kedua pihak gagal mencapai kesepakatan, memicu kekhawatiran runtuhnya gencatan senjata sementara yang baru berjalan dua pekan.

Wakil Presiden AS, JD Vance, mengkonfirmasi bahwa delegasi negaranya telah meninggalkan Pakistan tanpa hasil konkret. Ia menegaskan bahwa kegagalan ini lebih merugikan Teheran dibanding Washington.

“Kami belum berhasil mencapai kesepakatan. Ini tentu bukan kabar baik, terutama bagi Iran. Posisi kami sudah jelas, termasuk batasan-batasan yang tidak bisa dinegosiasikan,” ujar Vance kepada wartawan usai pertemuan.

Menurut Vance, salah satu hambatan utama adalah sikap Iran yang tidak bersedia menerima sejumlah tuntutan inti, khususnya terkait komitmen untuk tidak mengembangkan apa yang AS tuding selama ini yakni senjata nuklir maupun kemampuan yang memungkinkan produksi cepat senjata tersebut.

Baca Juga: Betrand Peto Besarkan Hati Rara Sudirman Usai Kalah dari Samuel Cipta-Nabila Taqiyah di Laga Badminton Sportstive

“Kami membutuhkan jaminan tegas bahwa mereka tidak akan mengejar senjata nuklir atau teknologi pendukungnya. Itu menjadi prioritas utama Presiden AS dan inti dari negosiasi ini,” tegasnya.

Di sisi lain, Iran menyalahkan tuntutan Washington yang dianggap berlebihan sebagai penyebab kebuntuan. Meski demikian, sinyal diplomatik belum sepenuhnya padam. Pemerintah Iran menyebut pembicaraan masih bisa dilanjutkan melalui jalur teknis, termasuk pertukaran dokumen antar ahli.

Pertemuan ini menjadi momen penting karena merupakan kontak langsung pertama antara kedua negara dalam lebih dari satu dekade, sekaligus dialog tingkat tinggi paling signifikan sejak Revolusi Islam Iran 1979.

Delegasi AS turut diisi utusan khusus Steve Witkoff serta penasihat senior Jared Kushner. Sementara Iran mengirim Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.

Menurut sumber lokal, Tasnim, seorang sumber Pakistan menyebut dinamika perundingan berlangsung fluktuatif, dengan suasana yang kerap memanas lalu mereda sepanjang sesi.

Salah satu isu paling sensitif dalam negosiasi ini adalah Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan energi dunia. Penutupan jalur ini sejak konflik pecah telah memicu lonjakan harga minyak global.

Iran dilaporkan menuntut kendali atas selat tersebut, termasuk hak penarikan biaya transit. Selain itu, Teheran juga meminta pencairan aset yang dibekukan di luar negeri serta kompensasi perang.

Baca Juga: Iran-AS Fokus Rundingkan Selat Hormuz, Sanksi, nlNuklir dan Konflik

Sebaliknya, Presiden AS Donald Trump menegaskan prioritasnya adalah memastikan kebebasan navigasi global di kawasan tersebut serta membatasi program nuklir Iran agar tidak berkembang menjadi ancaman senjata atom.

Di tengah proses ini, konflik yang lebih luas juga memperumit situasi. Sekutu AS, Israel, masih melanjutkan operasi militer terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon dan menegaskan konflik tersebut tidak termasuk dalam kerangka gencatan senjata AS-Iran.

Dengan tingkat ketidakpercayaan yang masih tinggi di kedua kubu, peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat tampak semakin tipis. Namun, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup, menyisakan harapan meski dalam kondisi yang rapuh.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan