JawaPos.com - Negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Islamabad membawa harapan besar bagi stabilitas Timur Tengah. Namun di balik optimisme mediator Pakistan, jalan menuju kesepakatan masih dipenuhi sejumlah hambatan serius.
Wakil Presiden AS, JD Vance, memang menyatakan kesiapan Washington untuk membuka ruang dialog. Tetapi ia juga memberi peringatan bahwa negosiasi tidak akan berjalan jika Iran menurutnya 'memainkan' proses tersebut.
Berikut 5 isu utama yang menjadi ganjalan bagi Iran dalam perundingan ini:
1. Lebanon: Titik Panas yang Bisa Gagalkan Negosiasi
Konflik di Lebanon menjadi faktor paling mendesak. Iran bersikeras bahwa penghentian serangan di Lebanon harus menjadi bagian dari kesepakatan.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, bahkan memperingatkan, kelanjutan aksi ini akan membuat negosiasi menjadi tidak berarti.
Namun, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan tidak ada gencatan senjata terkait Hizbullah, membuat posisi kedua pihak sulit dipertemukan.
2. Selat Hormuz: Jalur Energi yang Diperebutkan
Selat Hormuz menjadi kartu strategis Iran dalam negosiasi. Teheran kini mengontrol lalu lintas kapal dan bahkan dikabarkan mempertimbangkan sistem tarif untuk kapal yang melintas.
Di sisi lain, Presiden AS, Donald Trump, menolak keras langkah tersebut dan menuntut jalur pelayaran dibuka tanpa syarat. Dengan ratusan kapal masih tertahan, isu ini menjadi tekanan global yang sulit diabaikan.
3. Program Nuklir: Konflik Lama yang Belum Selesai
Isu nuklir tetap menjadi perbedaan paling fundamental. aS menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium
Iran menegaskan haknya untuk pengayaan untuk tujuan sipil.
Proposal 10 poin Iran bahkan meminta pengakuan internasional atas hak tersebut, sesuatu yang sulit diterima Washington.
4. Aliansi Regional Iran: “Axis of Resistance”
Jaringan sekutu Iran seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, Hamas di Gaza
menjadi sumber kekuatan sekaligus masalah. Israel melihat jaringan ini sebagai ancaman eksistensial, sementara Iran menganggapnya bagian dari strategi pertahanan.
Hingga kini, belum ada tanda bahwa Teheran bersedia mengurangi dukungan terhadap sekutu-sekutunya.
5. Sanksi dan Aset Beku: Tuntutan Berat Iran
Iran menuntut pencabutan seluruh sanksi internasional, termasuk pembebasan sekitar USD 120 miliar aset yang dibekukan.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyebut hal ini sebagai prasyarat penting sebelum negosiasi dimulai.
Namun, tuntutan ini dinilai terlalu besar bagi AS untuk disetujui di tahap awal.
Negosiasi di Tengah Ketidakpastian
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyebut perundingan ini sebagai momen bersejarah. Namun dengan banyaknya perbedaan mendasar, jalan menuju kesepakatan masih panjang dan penuh risiko.
Kelima isu tersebut bukan hanya menentukan nasib hubungan AS-Iran, tetapi juga stabilitas kawasan dan ekonomi global.
Jika satu saja gagal disepakati, negosiasi bisa runtuh. Namun jika berhasil dijembatani, Islamabad berpotensi menjadi titik awal perdamaian baru.
Untuk saat ini, satu hal jelas, negosiasi ini bukan sekadar diplomasi, melainkan pertaruhan besar yang akan menentukan arah konflik Timur Tengah ke depan.