← Beranda
Negosiasi Damai AS-Iran Dimulai di Islamabad di Tengah Bayang-bayang Ketidakpercayaan
Rian Alfianto• Sabtu, 11 April 2026 | 17.41 WIB
Delegasi tingkat tinggi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf (C) tiba di Islamabad, Pakistan, untuk negosiasi dengan Amerika Serikat, Sabtu (11/4/2026). (Xinhua)

JawaPos.com - Upaya meredakan konflik Timur Tengah mulai memasuki fase krusial. Delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen, Mohammad Baqer Qalibaf, tiba di Islamabad pada Sabtu (10/4) dini hari waktu setempat untuk memulai negosiasi damai dengan Amerika Serikat.

Namun, di balik momentum diplomasi ini, bayang-bayang ketidakpercayaan masih membayangi kedua negara yang telah lama berseteru.

Setibanya di Islamabad, Qalibaf langsung menegaskan posisi Tehran yang tetap berhati-hati terhadap Washington.

“Kami memiliki niat baik, tetapi kami tidak memiliki kepercayaan (terhadap Amerika),” ujarnya kepada wartawan.

Baca Juga: Iran Terkendala Buka Selat Hormuz akibat Ranjau yang Hilang

Dikutip via Xinhua, mengingatkan bahwa Iran merasa dikhianati dalam proses negosiasi sebelumnya, termasuk serangan yang terjadi di tengah upaya diplomasi.

Meski demikian, Qalibaf menyatakan Iran tetap terbuka untuk mencapai kesepakatan, selama hak-hak negaranya diakui.

Iran disebut mengajukan sejumlah prasyarat sebelum negosiasi benar-benar dimulai, di antaranya, penghentian serangan di Lebanon dan pembebasan aset Iran yang dibekukan.

Jika syarat tersebut dipenuhi, pembicaraan resmi dijadwalkan berlangsung di Hotel Serena, Islamabad.

Isu Lebanon sendiri menjadi sangat krusial, mengingat Iran bersikeras bahwa wilayah tersebut harus masuk dalam cakupan gencatan senjata, terutama terkait serangan terhadap Hizbullah.

Baca Juga: Trump Panaskan Situasi, Siapkan Armada Perang Terbaik Jika Negosiasi dengan Iran Gagal

Sementara dari pihak Amerika Serikat, Wakil Presiden JD Vance memimpin delegasi negosiasi dan telah bertolak ke Pakistan.

Sebelum keberangkatannya, Vance mengingatkan Iran agar tidak memanfaatkan negosiasi sebagai taktik semata.

“Jika mereka datang dengan itikad baik, kami siap membuka tangan. Tapi jika mencoba mempermainkan kami, tim negosiasi tidak akan menerima itu,” tegasnya.

Presiden AS, Donald Trump, juga meningkatkan tekanan menjelang pembicaraan. Ia menilai Iran berada dalam posisi lemah dan hanya mengandalkan pengaruh jangka pendek melalui Selat Hormuz.

Trump menyebut Iran 'tidak punya kartu selain tekanan sementara terhadap dunia melalui jalur perairan internasional'.

Baca Juga: Perang Iran-AS Memicu Bara, Harga Naik Mulai Mendera! Dubes UEA Tanggapi Efek Pertarungan Global

Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang menjadi mediator, menyatakan komitmennya untuk memastikan negosiasi berjalan sukses.

Ia menyebut pembicaraan ini sebagai peluang penting untuk menemukan solusi damai atas konflik yang telah berlangsung berminggu-minggu.

Untuk mendukung proses tersebut, Islamabad memberlakukan pengamanan ketat.

 

EDITOR: Bayu Putra