← Beranda
73 Negara dan Observer PBB Dukung Inisiasi Indonesia Soal Perlindungan Pasukan UNIFIL di Lebanon
Zalzilatul HikmiaSabtu, 11 April 2026 | 15.04 WIB
Sejumlah prajurit TNI mengusung peti jenazah personel penjaga perdamaian yang tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) saat upacara pelepasan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (4/4/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Indonesia menginisiasi Joint Statement on the Safety and Security of Peacekeepers, sebagai respons atas perkembangan situasi keamanan terkini di Lebanon yang berdampak terhadap pasukan penjaga perdamaian (peacekeepers).

Inisiasi itu muncul setelah Indonesia kehilangan tiga prajurit yang gugur usai terkena serangan saat bertugas sebagai bagian pasukan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).

Inisiasi ini langsung mendapat respon positif dan dukungan penuh dari negara-negara kontributor pasukan UNIFIL serta sejumlah negara lainnya.

Hingga pukul 16.30 waktu New York (9/4), sebanyak 73 negara dan observer PBB telah bergabung dalam Joint Statement tersebut.

Baca Juga: Komisi I DPR Sebut Gugurnya 3 Prajurit TNI Buka Peluang Indonesia Tarik Pasukan dari UNIFIL

Joint Statement on the Safety and Security of Peacekeepers berisi kecaman atas berlanjutnya serangan terhadap UNIFIL.

Termasuk tindakan agresif terhadap personel dan pimpinan UNIFIL dalam beberapa waktu terakhir yang tidak dapat dibenarkan.

Negara-negara kontributor UNIFIL juga turut menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya eskalasi ketegangan di Lebanon sejak 2 Maret 2026.

Termasuk, dampaknya terhadap keselamatan dan keamanan personel pasukan penjaga perdamaian.

Wakil Tetap RI untuk PBB di New York, Duta Besar Umar Hadi menegaskan, keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian PBB tidak dapat ditawar.

Baca Juga: Seminggu 3 Kali Serangan, Indonesia Desak DK PBB Investigasi Insiden Terhadap UNIFIL

Karenanya, semua negara kontributor UNIFIL mendesak PBB untuk memberikan perlindungan menyeluruh kepada mereka.

“Kami mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menggunakan seluruh instrumen yang tersedia guna memperkuat perlindungan bagi pasukan penjaga perdamaian di tengah situasi yang semakin berbahaya,” tegasnya dalam media stakeout bersama oleh Indonesia dan Prancis di Markas Besar PBB, New York, Kamis (9/4).

Dalam media stakeout itu hadir perwakilan sejumlah negara, antara lain Inggris, Rusia, RRT, Pakistan, Bahrain, Spanyol, dan Malaysia.

Umar menyebut bahwa inisiatif ini merupakan tindak lanjut konkret dari komitmen Indonesia untuk mengambil langkah tegas dalam merespons serangkaian serangan sejak akhir Maret 2026.

Terlebih, serangan Israel tersebut telah menyebabkan gugurnya tiga personel penjaga perdamaian Indonesia serta melukai sejumlah personel lainnya dari Prancis, Ghana, Indonesia, Nepal dan Polandia.

Baca Juga: Kemlu Italia Panggil Kedubes Israel soal Kendaraan UNIFIL Tertembak di Lebanon

“Kementerian Luar Negeri RI terus mendorong Dewan Keamanan PBB melanjutkan penyelidikan secara menyeluruh terhadap seluruh insiden yang melibatkan pasukan penjaga perdamaian,” tegasnya.

Selain itu, negara-negara kontributor juga menyerukan penghentian kekerasan di Lebanon dan deeskalasi ketegangan.

Seluruh pihak turut didorong untuk kembali ke meja perundingan guna mencapai penyelesaian damai.

Indonesia Kecam Serangan Israel ke Beirut

Pemerintah Indonesia juga mengecam keras berbagai serangan Israel terhadap Beirut dan berbagai wilayah di Lebanon pada Kamis (9/4).

Serangan tersebut diketahui telah menyebabkan banyak korban jiwa di kalangan sipil serta kerusakan fisik.

Baca Juga: Usai Tembak Personel UNIFIL asal TNI, Tentara Israel Tahan Penjaga Perdamaian PBB di Lebanon

Sedikitnya 254 orang dikabarkan tewas akibat serangan tersebut. Sedangkan 1.165 orang lainnya luka-luka.

Mengutip dari Al Jazeera, serangan tersebut digambarkan sebagai serangan bom terberat di Lebanon sejak Israel memulai agresi terhadap negara tersebut pada awal Maret.

Mirisnya, serangan tersebut berlangsung di tengah kesepakatan gencatan senjata antara Iran dengan Amerika Serikat (AS).

Iran Ancam Serang Balik Israel

Iran menuding bahwa AS telah melanggar kesepakatan dan mengancam akan melakukan serangan balik.

Pada Jumat (10/4) dini hari, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah mengeluarkan pernyataan soal serangan ini. Dia menegaskan, serangan akan terus berlanjut.

Baca Juga: Personel TNI Anggota UNIFIL Korban Serangan di Lebanon Dalam Kondisi Stabil

“Tidak ada gencatan senjata di Lebanon. Kami akan terus menyerang Hizbullah dengan kekuatan penuh, dan tidak akan berhenti,” ujarnya dalam video yang diunggah Kantor PM Israel ke media sosial.

Indonesia menilai serangan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional.

Serangan ini pun dianggap sangat berisiko semakin memperburuk ketegangan regional yang membahayakan keamanan global.

“Indonesia menuntut Israel untuk segera dan secara permanen menghentikan kekerasan dan agresi di Lebanon,” tulis Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI dikutip Jumat (10/4).

Indonesia menegaskan pentingnya perlindungan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil, sesuai dengan kewajiban hukum internasional.

Baca Juga: 3 Prajurit TNI Gugur dalam Misi Perdamaian, SBY Desak PBB Hentikan Penugasan UNIFIL di Lebanon

Karena itu, semua pihak diminta untuk menahan diri secara maksimal, melakukan upaya de-eskalasi, mengedepankan dialog, serta menghindari langkah-langkah yang dapat memperburuk situasi.

EDITOR: Bayu Putra