JawaPos.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa pasukan militer AS akan tetap berada di sekitar Iran.
Dilansir dari laman Al-Jazeera pada Kamis (9/4), Pernyataan tersebut disampaikan melalui media sosial pada Rabu malam waktu setempat.
Donald Trump menegaskan langkah ini sebagai bagian dari upaya memastikan kepatuhan terhadap kesepakatan yang disebutnya sebagai “perjanjian sebenarnya.”
Donald Trump menekankan bahwa seluruh unsur militer, termasuk kapal perang, pesawat, dan personel, tidak akan ditarik dari kawasan tersebut.
Donald Trump menyebut keberadaan pasukan sebagai bentuk kesiapan menghadapi kemungkinan eskalasi. Menurutnya, stabilitas kawasan sangat bergantung pada kepatuhan Iran terhadap tuntutan Washington.
Dalam pernyataannya, Trump juga melontarkan ancaman keras terhadap Iran. Ia memperingatkan bahwa jika kesepakatan tidak dipatuhi, maka aksi militer akan kembali dilakukan.
Bahkan, Trump menyebut potensi serangan tersebut akan lebih besar dan lebih kuat dibanding sebelumnya.
Selain itu, Trump mengklaim bahwa pasukan AS saat ini berada dalam kondisi siap tempur. Ia menggambarkan bahwa militer AS tidak hanya berjaga, tetapi juga bersiap menghadapi kemungkinan konflik lanjutan.
Pernyataan tersebut diperkuat dengan ungkapan bahwa pasukan “menantikan penaklukan berikutnya.”
Pernyataan keras ini muncul di tengah gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan tersebut sebelumnya dimediasi oleh Pakistan untuk meredakan ketegangan selama beberapa pekan.
Namun, pernyataan Trump dinilai berpotensi menggoyahkan stabilitas yang masih rapuh tersebut.
Trump juga kembali menegaskan tuntutan utama AS terhadap Iran. Ia meminta Teheran menghentikan ambisi pengembangan senjata nuklir dan menjamin keamanan jalur pelayaran internasional.
Tuntutan tersebut menjadi syarat utama agar kesepakatan dapat terus berjalan.
Sikap tegas Trump menuai perhatian luas dari berbagai pihak. Pernyataan mengenai kesiapan militer dan ancaman aksi lanjutan meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik.
Kondisi ini menempatkan kawasan Timur Tengah dalam situasi yang semakin tidak menentu.