JawaPos.com – Serangan militer Israel di berbagai wilayah Lebanon menewaskan sedikitnya 254 orang.
Dilansir dari laman Al-Jazeera pada Kamis (9/4), Serangan tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat diumumkan.
Peristiwa ini memicu kekhawatiran atas eskalasi konflik yang semakin meluas di kawasan Timur Tengah.
Badan Pertahanan Sipil Lebanon melaporkan bahwa lebih dari 1.100 orang mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Serangan udara menghantam kawasan padat penduduk, termasuk wilayah komersial dan permukiman di ibu kota Beirut. Kondisi ini menyebabkan kepanikan di kalangan warga sipil yang berusaha menyelamatkan diri.
Pemerintah Lebanon melalui Menteri Kesehatan menyebut situasi ini sebagai eskalasi berbahaya. Disebutkan bahwa lebih dari 100 serangan udara dilancarkan secara serentak di berbagai wilayah.
Pihak berwenang juga meminta bantuan internasional untuk menangani korban yang terus berdatangan ke rumah sakit.
Militer Israel menyatakan bahwa operasi tersebut merupakan serangan terbesar sejak konflik kembali memanas pada awal Maret.
Serangan menargetkan sejumlah wilayah strategis, termasuk Lembah Bekaa dan Lebanon selatan. Pemerintah Israel menyebut target utama adalah infrastruktur kelompok Hizbullah.
Meski demikian, laporan di lapangan menunjukkan bahwa banyak lokasi yang terkena serangan berada di kawasan sipil.
Kepulan asap terlihat di berbagai titik kota, sementara warga berlarian menyelamatkan diri. Tim medis dan relawan bekerja keras untuk mengevakuasi korban di tengah situasi yang kacau.
Sejumlah pihak internasional mengecam serangan tersebut. Pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa menyerukan penghentian segera semua aksi militer. Mereka menilai bahwa serangan lanjutan dapat memperburuk krisis kemanusiaan di kawasan tersebut.
Serangan ini terjadi di tengah upaya diplomatik untuk meredakan konflik melalui gencatan senjata. Namun, pernyataan dari pemimpin Israel menegaskan bahwa operasi militer terhadap Hizbullah akan tetap dilanjutkan.
Situasi ini menimbulkan ketidakpastian terhadap keberlanjutan perdamaian di kawasan Timur Tengah.