← Beranda
Iran Tuduh AS Langgar Gencatan Senjata, Soroti Serangan Israel ke Lebanon dan Konflik Hormuz
Rian AlfiantoKamis, 9 April 2026 | 19.03 WIB
Ilustrasi serangan terbaru Israel ke Lebanon. (Al-Jazeera)

JawaPos.com - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas hanya sehari setelah kesepakatan gencatan senjata diumumkan. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, secara terbuka menuduh Washington telah melanggar komitmen dalam kesepakatan tersebut.

Menurut Ghalibaf, pelanggaran terjadi karena serangan Israel ke Lebanon masih terus berlangsung, disertai insiden drone yang memasuki wilayah udara Iran serta penolakan terhadap hak Teheran untuk memperkaya uranium.

“Ketidakpercayaan mendalam kami terhadap Amerika Serikat berasal dari pelanggaran berulang atas berbagai komitmen,” ujarnya.

Baca Juga: Dikalahkan PSG, Arne Slot Beri Tanggapan Mengejutkan

Mengutip CNBC Internasional, Ghalibaf menyebut sedikitnya tiga poin utama dalam proposal damai Iran yang telah dilanggar, pertama serangan Israel yang terus berlanjut di Lebanon, kedua masuknya drone ke wilayah udara Iran dan ketiga penolakan AS terhadap hak Iran dalam pengayaan uranium.

Ia menilai kondisi tersebut membuat gencatan senjata dan negosiasi menjadi tidak masuk akal untuk dilanjutkan.

“Dalam situasi seperti ini, gencatan senjata bilateral atau negosiasi menjadi tidak rasional,” tegasnya.

Menanggapi tuduhan tersebut, Wakil Presiden AS, JD Vance, mengatakan bahwa situasi gencatan senjata memang sering kali tidak berjalan mulus.

“Gencatan senjata selalu kacau,” ujarnya saat kunjungan ke Hungaria.

Vance juga menegaskan bahwa konflik di Lebanon tidak pernah termasuk dalam cakupan kesepakatan dengan Iran, sekaligus kembali menegaskan posisi Washington yang menolak program pengayaan uranium Iran.

Pernyataan kedua pihak memperlihatkan adanya perbedaan tajam dalam memahami isi kesepakatan.

Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya menyebut kesepakatan bergantung pada pembukaan penuh dan aman Selat Hormuz. Namun Iran disebut berencana memberlakukan biaya atau pembatasan tertentu bagi kapal yang melintas, hal yang ditolak keras oleh Washington.

Juru bicara Gedung Putih menegaskan bahwa AS menginginkan Hormuz dibuka tanpa batasan, termasuk tanpa pungutan.

Di lapangan, ketegangan ini berdampak langsung pada jalur energi global. Media Iran melaporkan lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz kembali terhenti, seiring berlanjutnya serangan Israel ke Lebanon.

Padahal, sebelum konflik, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut.

Para analis energi juga mencatat bahwa arus kapal belum kembali normal dan masih berada pada level sangat rendah sejak konflik dimulai.

Iran menilai serangan Israel ke Lebanon sebagai bagian dari pelanggaran kesepakatan, sementara AS bersikukuh bahwa wilayah tersebut tidak termasuk dalam gencatan senjata.

Perbedaan ini menjadi salah satu titik utama yang menghambat proses negosiasi damai yang direncanakan berlangsung di Islamabad.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah