JawaPos.com - Pernyataan berbeda dari para pemimpin dunia kembali menyoroti rapuhnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Perdana Menteri (PM) Pakistan, Shehbaz Sharif, menyebut kesepakatan tersebut mencakup seluruh wilayah konflik, termasuk juga wilayah Lebanon.
Namun klaim ini langsung dibantah oleh Israel, yang menegaskan bahwa operasi militernya di Lebanon tetap berjalan. Hal tersebut sebelumnya disampaikan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Sharif menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata dicapai setelah upaya mediasi intensif oleh pemerintahnya.
“Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa Republik Islam Iran dan Amerika Serikat, bersama sekutu mereka, telah sepakat untuk gencatan senjata segera di mana saja, termasuk Lebanon,” tulisnya di platform X.
Baca Juga: Akui Sempat Krisis Gas LPG Akibat Perang Iran, Bahlil Sebut Kini Sudah Terlewati
Ia juga mengungkapkan bahwa perundingan lanjutan akan digelar di Islamabad pada Jumat, dengan harapan menghasilkan kesepakatan damai yang final.
“Kami berharap pembicaraan di Islamabad berhasil mencapai perdamaian berkelanjutan,” tambahnya.
Pakistan sendiri dalam beberapa pekan terakhir berperan sebagai penghubung komunikasi antara Washington dan Teheran.
Israel: Lebanon Tidak Termasuk
Namun, pernyataan tersebut bertolak belakang dengan sikap Israel. Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran tidak mencakup Lebanon.
“Gencatan senjata dua minggu ini tidak mencakup Lebanon,” demikian pernyataan resmi pemerintah Israel.
Artinya, operasi militer Israel terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon tetap berlanjut, meski ada jeda konflik antara Washington dan Teheran.
Diberitakan sebelumnya, kesepakatan gencatan senjata sendiri diumumkan hanya satu jam sebelum tenggat ultimatum Presiden AS, Donald Trump, untuk menghancurkan Iran berakhir.
Langkah tersebut membuka peluang diplomasi, namun implementasinya di lapangan masih penuh tantangan.
Baca Juga: Pakar Hukum Ingatkan Bahaya Intervensi Opini di Luar Ruang Sidang Bisa jadi Contempt of Court
Konflik yang dimulai sejak 28 Februari, ketika serangan AS dan Israel menewaskan pemimpin tertinggi Iran, telah berkembang menjadi perang multi-front yang melibatkan berbagai negara dan kelompok di kawasan.
Lebanon sendiri terseret dalam konflik setelah Hezbollah melancarkan serangan ke Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Iran.
Sejak itu, Israel melancarkan serangan udara hingga operasi darat di wilayah selatan Lebanon, bahkan dilaporkan juga menargetkan ibu kota.
Perbedaan klaim soal cakupan gencatan senjata kini menempatkan Lebanon sebagai salah satu titik paling rawan dalam konflik.