JawaPos.com - Harapan meredanya konflik Timur Tengah kembali terpukul. Hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran sepakat saling menahan serangan selama dua pekan, sejumlah negara Teluk justru melaporkan gelombang serangan drone dan rudal yang diklaim oleh negara yang bersangkutan berasal dari Iran.
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa gencatan senjata yang diumumkan Presiden AS, Donald Trump, belum sepenuhnya mampu menghentikan eskalasi di kawasan.
UEA dan Kuwait Diserang, Sistem Pertahanan Aktif
Melansir Al-Jazeera, Uni Emirat Arab menyatakan sistem pertahanan udaranya langsung diaktifkan untuk menghadapi serangan yang masuk.
Kementerian Pertahanan UEA mengungkapkan bahwa ledakan yang terdengar di berbagai wilayah merupakan hasil intersepsi terhadap rudal balistik, rudal jelajah, dan drone.
Baca Juga: Sering Diucapkan! 11 Kalimat Halus Yang Ternyata Bentuk Manipulasi Emosional
“Pertahanan udara saat ini sedang menangani rudal dan drone yang datang dari Iran,” demikian pernyataan resmi mereka.
Sementara itu, Kuwait juga melaporkan serangan drone sejak pagi hari. Militer Kuwait menyebut sejumlah drone menargetkan fasilitas vital seperti instalasi minyak, pembangkit listrik, dan pabrik desalinasi air.
Sebanyak 28 drone berhasil dihadapi oleh sistem pertahanan udara Kuwait, meski beberapa serangan menyebabkan kerusakan serius pada infrastruktur.
Sementara di Bahrain, Kementerian Dalam Negeri melaporkan dua warga mengalami luka ringan akibat serpihan drone yang berhasil dicegat.
Ledakan juga terdengar di ibu kota Manama, dengan asap terlihat di wilayah Sitra, lokasi fasilitas energi utama negara tersebut.
Pihak berwenang menyebut tim pertahanan sipil berhasil memadamkan kebakaran di salah satu fasilitas yang terdampak serangan.
Iran Belum Beri Respons
Hingga kini, Iran belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan serangan tersebut.
Namun, media pemerintah Iran melaporkan bahwa kilang minyak di Pulau Lavan juga menjadi sasaran serangan, meski tidak ada korban jiwa.
Serangan terbaru ini terjadi di tengah konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari, ketika Iran merespons serangan AS dan Israel dengan menargetkan infrastruktur energi di negara-negara Teluk.
Iran juga sempat menutup sebagian Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Langkah tersebut sebelumnya telah memicu lonjakan harga energi global dan gangguan distribusi bahan bakar.
Diberitakan sebelumnya, kesepakatan gencatan senjata antara Washington dan Teheran dicapai hanya satu jam sebelum tenggat ultimatum Trump untuk menghancurkan Iran berakhir.
Namun, rentetan serangan terbaru menunjukkan bahwa kesepakatan tersebut belum sepenuhnya efektif di lapangan.
Dengan konflik yang kini melibatkan banyak negara dan aktor, situasi di Timur Tengah semakin kompleks dan sulit dikendalikan.
Serangan terhadap negara-negara Teluk menandakan bahwa konflik tidak hanya terbatas pada Iran dan Amerika Serikat, tetapi telah meluas ke kawasan strategis global.