JawaPos.com - Iran resmi menyetujui gencatan senjata selama dua pekan dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, membuka jalan bagi negosiasi damai yang akan digelar di Islamabad, Pakistan, mulai Jumat (10/4).
Keputusan ini diumumkan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, tak lama setelah Presiden AS, Donald Trump, menyatakan akan menangguhkan serangan militer terhadap Iran dalam periode yang sama.
Langkah ini menjadi perkembangan signifikan setelah lebih dari lima minggu konflik intens yang melibatkan AS, Israel, serta kelompok sekutu Iran di kawasan.
Baca Juga: Kasus Peluru Nyasar di Gresik Berbuntut Panjang, Orang Tua Korban Cari Keadilan ke DPRD
Mengutip Al-Jazeera, perundingan antara kedua negara dijadwalkan berlangsung di ibu kota Pakistan, Islamabad, dengan mediasi langsung dari pemerintah Pakistan.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan bahwa gencatan senjata telah berlaku segera.
“Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa Iran dan Amerika Serikat, bersama sekutu mereka, telah menyepakati gencatan senjata segera di semua wilayah, termasuk Lebanon,” tulis Sharif di platform X.
Ia juga mengundang delegasi kedua negara untuk hadir dalam perundingan guna mencapai kesepakatan final.
Seperti sudah diberitakan sebelumnya, kesepakatan ini tidak lepas dari syarat utama yang diajukan Washington, yakni pembukaan kembali Selat Hormuz.
Selat ini merupakan jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Penutupan sebagian oleh Iran sejak akhir Februari telah memicu lonjakan harga energi global dan gangguan distribusi bahan bakar.
Trump menegaskan bahwa gencatan senjata bergantung pada 'pembukaan lengkap, segera, dan aman' jalur tersebut.
Meski demikian, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Iran akan menghentikan operasi militernya jika serangan terhadap negaranya juga dihentikan.
“Jika serangan terhadap Iran dihentikan, angkatan bersenjata kami akan menghentikan operasi defensif mereka,” ujarnya.
Ia juga memastikan jalur pelayaran di Selat Hormuz akan dibuka sementara selama dua minggu melalui koordinasi militer.
Namun, Iran tetap menunjukkan sikap hati-hati. Dewan Keamanan Nasional menyatakan bahwa mereka memasuki negosiasi dengan 'ketidakpercayaan penuh' terhadap Amerika Serikat, dan siap merespons 'dengan kekuatan penuh' jika terjadi pelanggaran.
Konflik ini sebelumnya telah meluas ke berbagai wilayah, termasuk Lebanon melalui kelompok Hizbullah dan Yaman lewat Houthi, yang meningkatkan risiko perang regional lebih besar.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari Israel terkait kesepakatan gencatan senjata ini mengingat dalam pesan yang saling dilemparkan baik oleh AS atau Iran, keduanya tidak secara spesifik menyebut atau melibatkan Israel.