JawaPos.com - Sinyal kuat deeskalasi konflik datang dari Teheran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa negaranya siap menghentikan operasi militer jika serangan terhadap Iran juga dihentikan.
Pernyataan ini disampaikan Araghchi di tengah meningkatnya upaya diplomasi dan mediasi internasional untuk meredakan konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya.
“Jika serangan terhadap Iran dihentikan, angkatan bersenjata kami yang kuat akan menghentikan operasi defensif mereka,” ujar Araghchi melalui platform X, Rabu (8/4).
Baca Juga: Hadapi Tekanan Global, Pemerintah Jaga Akses Kerja Tetap Terbuka
Ia menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari upaya deeskalasi yang tengah berlangsung, seiring komunikasi diplomatik yang terus dilakukan.
Jaminan Hormuz Dibuka Sementara
Selain membuka peluang penghentian operasi militer, Iran juga memberikan sinyal konkret dengan menjamin jalur aman di Selat Hormuz selama dua pekan.
Araghchi menyebut, akses pelayaran akan dibuka melalui koordinasi dengan angkatan bersenjata Iran, dengan mempertimbangkan aspek teknis di lapangan.
Langkah ini menjadi krusial mengingat Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi minyak dunia, yang sebelumnya sempat ditutup Iran sebagai respons atas serangan militer.
Baca Juga: Rating Tak Sinkron dengan Konten, Komdigi Investigasi Game di Steam
Proposal Damai 10 Poin Jadi Dasar Negosiasi
Pernyataan Araghchi juga memperkuat posisi Iran dalam mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Teheran sebelumnya telah mengajukan proposal perdamaian 10 poin yang kini menjadi kerangka negosiasi.
Proposal tersebut mencakup sejumlah tuntutan utama, di antaranya:
- Jaminan non-agresi terhadap Iran
- Pengakuan hak pengayaan uranium
- Pencabutan seluruh sanksi AS
- Penghentian resolusi PBB dan badan nuklir internasional
- Penarikan pasukan AS dari kawasan
- Pembayaran kompensasi perang
- Gencatan senjata di seluruh front konflik
Baca Juga: Jadi Awet Muda, 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Juga Bikin Kulit Bersinar
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan proposal ini akan menjadi dasar pembicaraan, meski tidak semua detail dipublikasikan secara terbuka.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan penundaan serangan terhadap Iran selama dua minggu. Ia menyebut proposal Iran sebagai 'dasar yang bisa dikerjakan' untuk negosiasi, meski belum tentu disetujui sepenuhnya.
Penundaan ini membuka ruang diplomasi yang dinilai sebagai peluang penting untuk mencegah eskalasi konflik lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Dengan adanya sinyal saling menahan diri dari kedua pihak, dua minggu ke depan menjadi periode krusial. Jika kesepakatan dapat dicapai, konflik berpotensi mereda secara signifikan.
Namun jika negosiasi gagal, ancaman eskalasi militer kembali membayangi.
Untuk saat ini, pernyataan Araghchi menjadi salah satu indikasi paling jelas bahwa jalur diplomasi masih terbuka, dan mungkin menjadi satu-satunya jalan keluar dari konflik yang kian memanas.