JawaPos.com — Memasuki usia setengah abad, Apple menghadapi ujian paling menentukan dalam sejarah modernnya: perlombaan kecerdasan buatan (AI) global yang kini didominasi para rival seperti Google, OpenAI dan Meta. Di tengah perayaan ulang tahun ke-50 di Apple Park, momentum simbolik itu justru menegaskan satu hal: perusahaan pencipta iPhone ini tertinggal dalam gelombang AI generatif.
Dipimpin oleh CEO Tim Cook, Apple selama bertahun-tahun mengandalkan diferensiasi berbasis privasi—sebuah pendekatan yang kontras dengan model bisnis berbasis iklan milik pesaingnya. Namun, strategi tersebut kini menjadi pedang bermata dua di era AI yang sangat bergantung pada data dalam skala besar.
Dilansir dari The Street, Selasa (7/4/2026), sejumlah mantan eksekutif internal menilai strategi “privacy-first” justru membuat Apple tertinggal dalam gelombang awal AI generatif yang sangat bergantung pada data. Analis Asymco, Horace Dediu, menegaskan risiko dalam kemitraan dengan Google, “Di situlah batas tegas harus dibangun. Apple tidak boleh menyerahkan data tersebut ke Google, dan Google tidak boleh menjadi lebih unggul karena mendapatkan informasi dari Apple.”
Baca Juga: WTJJ Implementasikan ESG Lewat Transformasi Bisnis Air Berkelanjutan
Tekanan itu kian terlihat setelah Apple meneken kerja sama multi-tahun untuk mengintegrasikan model AI Gemini ke dalam Siri. Relasi bisnis pun berbalik: jika sebelumnya Google membayar sekitar US$20 miliar per tahun (sekitar Rp340,4 triliun dengan kurs Rp17.020 per dolar AS) untuk menjadi mesin pencari default di iPhone, kini Apple justru harus melisensikan teknologi AI dari pesaingnya—sebuah sinyal melemahnya kontrol atas teknologi inti di era AI.
Selain itu, Gene Munster dari Deepwater Asset Management menilai Apple gagal membaca arah industri. Dia menyatakan, “Ini pada dasarnya adalah kegagalan untuk mengenali ke mana dunia bergerak dan seberapa cepat perubahan itu terjadi,” seraya menyebut posisi Apple kini berada di “persimpangan jalan” terkait relevansi jangka panjang produknya.
Padahal, Apple sempat memiliki keunggulan awal melalui Siri yang diluncurkan pada 2011—lebih cepat dibanding Alexa dan Google Assistant. Namun, jurnalis teknologi veteran Walt Mossberg menilai, “Apple pada dasarnya menyia-nyiakan keunggulan lima tahunnya.” Pernyataan ini diperkuat oleh Dag Kittlaus, salah satu pendiri Siri, yang mengatakan, “Saya tidak ingin bekerja tanpa Steve Jobs,” menyoroti hilangnya arah visi produk setelah wafatnya pendiri Apple tersebut.
Kittlaus menambahkan, meski kemampuan teknis Siri terus berkembang, arah pengembangannya kehilangan ambisi awal. “Secara teknis, kini tidak ada lagi hambatan untuk mewujudkan visi awal Siri. Teknologi yang tersedia saat ini justru adalah sesuatu yang dulu sangat kami butuhkan,” ujarnya. Senada, Adam Cheyer menegaskan bahwa visi awal Siri adalah menyatukan kemampuan memahami dan mengeksekusi perintah dalam satu sistem—konsep yang hingga kini belum sepenuhnya terwujud.
Di sisi lain, Apple memilih jalur berbeda dari pesaing seperti Amazon, Microsoft, dan Alphabet yang menggelontorkan ratusan miliar dolar untuk infrastruktur AI. Apple justru menahan belanja modal besar dan lebih fokus pada pemrosesan AI di perangkat (on-device), sebuah strategi yang diyakini akan menjadi keunggulan saat model AI semakin ringan.
Selain itu, mantan eksekutif Apple, Tony Fadell, menilai AI di masa depan tidak akan menggantikan peran ponsel, melainkan memperkuat fungsinya. “Perangkat seperti pin atau pena hanya akan menjadi aksesori dari ponsel. Ke depan, akan ada berbagai perangkat yang saling terhubung dan semuanya didukung AI,” ujarnya. Pandangan ini berbeda dengan pendekatan OpenAI yang bersama Jony Ive tengah mengembangkan perangkat tanpa layar sebagai alternatif ponsel.
Pada akhirnya, taruhan Apple jelas: ketika AI berpindah dari cloud ke perangkat, kontrol atas privasi dan pengalaman pengguna bisa kembali menjadi keunggulan utama. Namun, jika gagal mengejar ketertinggalan dalam membangun asisten AI yang kuat, seperti diperingatkan Munster, maka “akan ada pihak lain yang melakukannya”—dan itu bisa menggerus dominasi Apple di masa depan.