← Beranda
Murka! Menlu Iran Nilai Serangan AS-Israel ke Sharif University of Technology sebagai Kejahatan terhadap Ilmu Pengetahuan
Rian AlfiantoSelasa, 7 April 2026 | 17.36 WIB
Menlu Iran kecam keras serangan AS-Israel ke kampus Sharif, sebut serangan ini kejahatan terhadap ilmu dan masa depan Iran.

 

JawaPos.com - Kecaman keras dilontarkan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyusul serangan terbaru Amerika Serikat dan Israel yang menghantam Sharif University of Technology, kampus teknik paling prestisius di Iran yang kerap disebut sebagai 'MIT-nya Iran'.

Dalam pernyataannya di platform X, Araghchi menyebut serangan tersebut sebagai tindakan kriminal yang menargetkan pusat ilmu pengetahuan dan inovasi.

"Agresor Israel-AS telah membom MIT Iran. Ini menyusul serangan terhadap universitas lain," tegasnya.

Serangan udara yang terjadi di Teheran dilaporkan menyebabkan kerusakan besar pada fasilitas kampus, termasuk laboratorium dan masjid utama di kompleks universitas. Aksi ini menjadi bagian dari gelombang serangan lebih luas yang juga menyasar infrastruktur sipil seperti jalan, pembangkit listrik, dan jembatan.

Dalam beberapa hari terakhir, serangan Amerika Serikat dan Israel telah menghantam sedikitnya 12 kota di Iran, menewaskan sedikitnya 34 orang, termasuk anak-anak.

Menurut laporan lapangan, lebih dari 30 universitas di Iran telah menjadi target sejak konflik meningkat pada 28 Februari.

Araghchi juga mengutip sabda Nabi Muhammad SAW untuk menegaskan bahwa ilmu pengetahuan tidak bisa dihancurkan oleh kekuatan militer.

“1.400 tahun yang lalu, Nabi Muhammad mengatakan bahwa bahkan jika pengetahuan terletak di Pleiades yang jauh, orang Iran akan mampu mencapainya," ujarnya.

Ia memperingatkan bahwa pihak yang menyerang akan menghadapi konsekuensi serius.

"Agresor akan melihat kekuatan kita," lanjut Araghchi.

Senada, Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, juga melontarkan kritik tajam terhadap Presiden AS Donald Trump.

"Serangan bom penghancur bunker terhadap Universitas Sharif adalah simbol kegilaan dan ketidaktahuan Trump," kata Aref.

Ia menambahkan, kekuatan Iran tidak terletak pada bangunan fisik.

"Dia gagal memahami bahwa pengetahuan Iran tidak tertanam dalam beton untuk dihancurkan oleh bom. Benteng sejati adalah kehendak para profesor dan elit kita," lanjut Aref.

Serangan Dinilai Targetkan Masa Depan Iran

Para analis menilai, serangan terhadap universitas bukan sekadar target militer, melainkan upaya sistematis untuk melemahkan masa depan ilmiah Iran.

Serangan ini disebut sebagai bagian dari kampanye yang lebih luas untuk menghancurkan semangat rakyat Iran dan menghambat kemajuan teknologi negara tersebut.

Namun, sejumlah pakar menilai tindakan tersebut justru berpotensi memperkuat persatuan nasional dan tekad Iran dalam mempertahankan kedaulatan serta melanjutkan pengembangan ilmu pengetahuan.

Gelombang serangan terbaru ini merupakan kelanjutan dari eskalasi konflik yang dimulai pada 28 Februari, beberapa bulan setelah serangan awal AS-Israel terhadap Iran.

Dalam responsnya, Iran melancarkan serangan balasan dengan rudal dan drone ke target-target Israel serta kepentingan militer Amerika Serikat di kawasan.

Ketegangan yang terus meningkat ini memicu kekhawatiran internasional akan meluasnya konflik dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama dengan semakin seringnya fasilitas sipil, termasuk pendidikan dan kesehatan, menjadi sasaran.

EDITOR: Estu Suryowati