← Beranda
Serangan AS-Israel Guncang Iran: Masjid dan Universitas Jadi Sasaran, Puluhan Tewas Termasuk Anak-anak
Rian AlfiantoSelasa, 7 April 2026 | 06.32 WIB
Menteri Sains Iran Hossein Simaee Sarraf memeriksa kerusakan di gedung penelitian Universitas Shahid Beheshti, yang rusak akibat serangan AS-Israel pada 4 April 2026. (Majid Asgaripour/Wana via Reuters)

JawaPos.com - Serangan besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke berbagai wilayah Iran memicu kecaman luas, setelah sejumlah fasilitas sipil, termasuk masjid dan institusi pendidikan, ikut menjadi sasaran. Sedikitnya 34 orang dilaporkan tewas, di antaranya enam anak-anak.

Serangan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump memberikan ultimatum kepada Teheran agar membuka kembali Selat Hormuz, dengan ancaman serangan terhadap infrastruktur vital jika tidak dipenuhi.

Korban Sipil Berjatuhan, Anak-anak Jadi Korban

Kantor berita Fars melaporkan, serangan udara di Baharestan, Provinsi Teheran, menewaskan 23 orang, termasuk empat anak perempuan dan dua anak laki-laki berusia di bawah 10 tahun.

Baca Juga: Komdigi Sebut Steam Sudah Minta Maaf soal Polemik IGRS: Ternyata Salah Tahap, Bukan 'Rating Palsu'

Serangan lain di kota Qom menewaskan lima orang, sementara enam korban jiwa dilaporkan di Bandar-e Lengeh, Iran selatan. Total, sedikitnya 12 kota dilaporkan menjadi target, termasuk Bandar Abbas, Ahvaz, Shiraz, Isfahan, dan Karaj.

Masjid dan Kampus Elit Ikut Dihantam

Salah satu target paling disorot adalah Sharif University of Technology di Teheran, yang dikenal sebagai kampus teknik unggulan Iran. Serangan dilaporkan menyebabkan kerusakan parah pada kompleks kampus, termasuk masjid dan laboratorium.

Jurnalis Al Jazeera, Tohid Asadi, melaporkan bahwa kawasan kampus juga mengalami serangan tambahan, termasuk fasilitas gas di sekitarnya.

"Kementerian Sains dan Teknologi Iran memberi tahu kami bahwa setidaknya 30 universitas telah terkena dampak sejak perang dimulai pada 28 Februari," ujar Asadi.

Iran: Serangan Ini Simbol Kegilaan Trump

Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, mengecam keras serangan tersebut, khususnya penggunaan bom penghancur bunker terhadap kampus.

“Serangan bom bunker-buster di Universitas Sharif adalah simbol kegilaan dan kebodohan Trump,” kata Aref dalam pernyataan di platform X.

Ia menegaskan bahwa kekuatan Iran tidak terletak pada bangunan fisik, melainkan pada ilmu pengetahuan dan sumber daya manusianya.

Selain fasilitas pendidikan, serangan juga menyasar infrastruktur sipil seperti jalan, pembangkit listrik, dan jembatan di berbagai wilayah Iran.

Fasilitas petrokimia besar di Asaluyeh juga dilaporkan terkena dampak. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengklaim serangan tersebut menargetkan pusat produksi petrokimia terbesar Iran yang menyumbang sekitar 50 persen produksi nasional.

Media lokal Iran menyebut sejumlah fasilitas penting seperti Jam, Damavand, dan Mobin turut menjadi sasaran.

Organisasi Energi Atom Iran mengecam serangan terhadap fasilitas air berat sebagai 'kejahatan terhadap sains dan kesehatan manusia'.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sebelumnya juga melaporkan bahwa fasilitas produksi air berat Khondab telah terkena serangan pada 27 Maret dan kini tidak lagi beroperasi.

Seperti juga sudah diberitakan sebelumnya, di tengah eskalasi, Iran juga mengkonfirmasi tewasnya kepala intelijen Garda Revolusi, Mayor Jenderal Majid Khademi, akibat serangan yang disebut sebagai aksi teroris oleh musuh Amerika-Zionis.

Sementara itu, Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) menyatakan keprihatinan atas serangan terhadap ambulans dan tenaga medis.

Sekretaris Jenderal IFRC, Jagan Chapagain, mengatakan bahwa dalam lima minggu konflik, beberapa ambulans rusak dan empat relawan tewas saat menjalankan misi kemanusiaan.

“Setiap serangan terhadap tenaga kesehatan, ambulans, atau fasilitas medis tidak dapat diterima,” tegasnya.

Eskalasi terbaru ini menunjukkan konflik yang kian meluas dengan dampak signifikan terhadap warga sipil dan fasilitas non-militer, memicu kekhawatiran global atas potensi krisis kemanusiaan yang lebih besar.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah