JawaPos.com - Ketegangan di kawasan Teluk memanas setelah Iran melancarkan serangkaian serangan drone dan rudal yang menargetkan infrastruktur vital di beberapa negara sekutu Amerika Serikat.
Serangan yang terjadi pada Minggu (5/4) waktu setempat tersebut dilaporkan merusak fasilitas sipil di Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Kuwait, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik regional yang lebih luas.
Serangan ini disebut sebagai respons langsung atas operasi militer AS dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari.
Teheran menuduh negara-negara Teluk telah memberikan akses wilayahnya kepada militer AS untuk melancarkan serangan, meski tuduhan tersebut dibantah keras oleh pemerintah setempat.
Infrastruktur Energi jadi Sasaran
Di Abu Dhabi, otoritas setempat melaporkan kebakaran di fasilitas petrokimia Borouge yang berlokasi di Ruwais Industrial City. Kebakaran disebut dipicu oleh puing-puing yang jatuh setelah sistem pertahanan udara berhasil mencegat serangan.
“Operasi di fasilitas dihentikan sementara untuk evaluasi kerusakan. Tidak ada korban luka,” demikian pernyataan resmi pemerintah setempat.
Sementara itu di Bahrain, perusahaan energi nasional Bapco Energies mengonfirmasi kebakaran pada salah satu tangki penyimpanan akibat serangan drone Iran. Api berhasil dipadamkan dan tidak ada korban jiwa.
Di Kuwait, dampak serangan dilaporkan lebih signifikan. Kuwait Petroleum Corporation menyebut adanya 'kerusakan material parah' di sejumlah unit operasional akibat serangan drone yang memicu kebakaran.
Selain itu, dua fasilitas pembangkit listrik dan desalinasi air mengalami kerusakan serius hingga menyebabkan penghentian sebagian produksi.
Ancaman Meluas ke Fasilitas Air
Iran juga memperluas ancamannya ke fasilitas desalinasi air, sumber utama pasokan air bersih bagi negara-negara Teluk yang beriklim gurun. Hal ini meningkatkan kekhawatiran akan dampak kemanusiaan jika konflik terus meningkat.
Di dalam negeri Iran, serangan balasan juga terjadi. Sebuah fasilitas petrokimia di provinsi Khuzestan dilaporkan terkena serangan pada Sabtu, menewaskan lima orang.
Perang Retorika Memanas
Ketegangan semakin meningkat setelah Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran. Ia memberi waktu 48 jam bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz.
“Waktu hampir habis, 48 jam sebelum neraka akan benar-benar terjadi,” tulis Trump di platform Truth Social.
Pernyataan tersebut langsung dibalas oleh komando militer pusat Iran. Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi menyebut ancaman Trump sebagai tindakan putus asa, gugup, tidak seimbang, dan bodoh.
Menggemakan retorika Trump, ia memperingatkan: “Gerbang neraka akan terbuka untuk kalian.”
Israel Ikut jadi Target
Di saat bersamaan, militer Israel melaporkan adanya serangan rudal dari Iran yang menyasar wilayahnya pada hari yang sama, menandakan konflik kini telah meluas ke berbagai front.
Risiko Konflik Regional Kian Nyata
Rangkaian serangan ini menegaskan meningkatnya risiko konflik terbuka di kawasan Teluk, terutama dengan keterlibatan negara-negara yang menjadi basis militer AS.
Dengan infrastruktur energi dan air sebagai target, dampak konflik tidak hanya bersifat militer, tetapi juga mengancam stabilitas ekonomi global dan keamanan pasokan energi dunia.