← Beranda
Pilot AS Masih Hilang, Donald Trump Tebar Ancaman Baru: Beri Ultimatum 48 Jam Sebelum Iran Berubah jadi Neraka!
Rian AlfiantoMinggu, 5 April 2026 | 18.52 WIB
Ilustrasi mimik wajah marah Donald Trump. (CNN).

 

JawaPos.com - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda setelah Presiden AS, Donald Trump, melontarkan ancaman terbaru dengan tenggat waktu 48 jam. Pernyataan itu disampaikan di tengah operasi pencarian pilot AS yang masih hilang di wilayah Iran.

Melalui media sosial, Trump mengingatkan ultimatum yang sebelumnya ia berikan kepada Teheran.

"Ingatlah ketika saya memberi Iran sepuluh hari untuk membuat kesepakatan atau membuka jalan pintas yang sulit. Waktu hampir habis, 48 jam sebelum seluruh Neraka akan menguasai mereka," kata Donald Trump diterjemahkan dari tulisan di media sosial pribadinya.

Baca Juga: Tiga Pemain yang Tampil Buruk dalam Kekalahan Real Madrid di Kandang Mallorca

Ancaman tersebut muncul saat konflik di kawasan terus berkembang. Militer AS kini memasuki hari kedua pencarian pilot yang ditembak jatuh di wilayah terpencil Iran. 

Teheran mengklaim telah menjatuhkan jet tempur F-15 milik AS. Media AS melaporkan satu dari dua awak pesawat berhasil diselamatkan, sementara satu lainnya masih belum ditemukan.

Wakil gubernur provinsi Kohgiluyeh dan Boyer-Ahmad, Fattah Mohammadi, mengatakan pencarian melibatkan militer serta warga lokal. Ia menyebut operasi masih berlangsung dengan dukungan kelompok masyarakat dan suku setempat.

Baca Juga: Rencana Arbeloa untuk Kembalikan Performa Jude Bellingham

“Pencarian melibatkan kehadiran pasukan rakyat dan suku-suku bersama militer dan masih berlangsung,” ujarnya.

Mohammadi juga menambahkan bahwa warga sempat menembaki helikopter AS yang mencoba mendarat.

“Tadi malam, warga menembaki helikopter musuh dengan senapan dan tidak membiarkan mereka mendarat," kata Mohammadi.

Di tengah upaya pencarian itu, eskalasi serangan terus terjadi. Garda Revolusi Iran menyatakan telah menyerang kapal komersial di Bahrain, sekaligus menegaskan kontrol mereka atas jalur pelayaran strategis di kawasan Teluk. Iran juga terus menargetkan kepentingan ekonomi negara-negara yang dianggap terkait dengan operasi militer AS dan Israel.

Sebaliknya, serangan yang diduga dilakukan AS atau Israel menghantam pusat petrokimia di barat daya Iran dan menewaskan lima orang, menurut wakil gubernur provinsi Khuzestan. Serangan lain juga menyasar fasilitas industri, termasuk pabrik semen dan terminal perdagangan di perbatasan Iran-Irak.

Situasi semakin mengkhawatirkan setelah serangan terjadi di dekat Bushehr Nuclear Power Plant. Insiden itu menewaskan seorang penjaga dan memicu evakuasi pekerja asing, termasuk dari Rusia yang terlibat dalam pembangunan fasilitas tersebut. Moskow mengecam serangan itu sebagai tindakan berbahaya.

Baca Juga: Persija Incar Tiga Poin di Lampung, Mauricio Souza Waspadai Permainan Bhayangkara FC

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan bahwa serangan lanjutan terhadap fasilitas nuklir tersebut dapat memicu bencana radiasi. Ia menegaskan dampaknya tidak hanya akan dirasakan Iran, tetapi juga negara-negara Teluk.

Sementara itu, kepala International Atomic Energy Agency, Rafael Grossi, menyatakan belum ada peningkatan radiasi di lokasi, namun mengungkapkan kekhawatiran mendalam karena serangan terhadap fasilitas itu telah terjadi beberapa kali dalam beberapa pekan terakhir.

Di ibu kota Teheran, situasi tak kalah mencekam. Seorang jurnalis AFP melaporkan langit kota dipenuhi asap tebal akibat serangan terbaru. Warga sipil pun mulai merasakan dampak langsung dari konflik yang terus meluas.

Baca Juga: Kemenangan Tipis atas PSIM, Egy Sebut Chemistry Tim Dewa United Makin Kuat

Seorang warga Teheran, Faezeh (31), menggambarkan kondisi yang ia alami.
"Perang ini bukan untuk kebebasan... kita akhirnya terjebak dengan sesuatu yang bahkan lebih buas."

Konflik yang telah berlangsung lebih dari sebulan ini bermula dari serangan AS-Israel terhadap Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan rudal dan drone ke berbagai target di kawasan, termasuk Israel dan sekutu AS di Teluk.

Dalam perkembangan terbaru, serpihan drone yang dicegat dilaporkan melukai empat orang di Bahrain. Sementara di Dubai, dua bangunan terkena puing, termasuk salah satu fasilitas yang menampung perusahaan teknologi asal AS.

Ancaman terbaru Trump kini menjadi titik krusial di tengah eskalasi yang belum menunjukkan tanda mereda. Dengan tenggat waktu 48 jam yang terus berjalan, situasi di Timur Tengah berada di ambang konflik yang lebih luas.

EDITOR: Banu Adikara