JawaPos.com - Iran dilaporkan menolak proposal gencatan senjata selama 48 jam yang diajukan Amerika Serikat (AS), di tengah meningkatnya eskalasi konflik militer di kawasan Timur Tengah.
Kabar penolakan tersebut disampaikan kantor berita semi-resmi Iran, Fars, pada Jumat (4/4), mengutip sumber yang mengetahui proses diplomasi tersebut.
Menurut laporan itu, proposal gencatan senjata disampaikan Washington kepada Teheran melalui sebuah negara yang disebut sebagai 'sahabat' pada Kamis (2/4) sebelumnya.
Sumber tersebut mengungkapkan bahwa AS belakangan meningkatkan upaya diplomatik untuk meredakan konflik, terutama setelah serangan Iran menargetkan depot pasukan militer AS di Pulau Bubiyan, Kuwait.
“Washington mempercepat langkah diplomatiknya untuk mengamankan gencatan senjata, khususnya setelah serangan Iran terhadap fasilitas militer AS,” demikian dikutip dari laporan Fars.
Namun, Iran menilai proposal tersebut muncul bukan tanpa alasan. Berdasarkan analisis yang dikutip media tersebut, tawaran gencatan senjata diajukan setelah krisis di kawasan semakin memanas serta munculnya 'masalah serius' yang dihadapi pasukan AS akibat kesalahan perhitungan terhadap kemampuan militer Iran.
Alih-alih memberikan jawaban tertulis, Iran disebut menunjukkan sikap penolakannya secara langsung di lapangan.
“Respons Iran tidak disampaikan secara tertulis, melainkan melalui kelanjutan serangan di medan tempur,” kata sumber tersebut.
Konflik di kawasan sendiri terus meningkat sejak 28 Februari lalu, ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan ke Teheran dan sejumlah kota lain di Iran.
Baca Juga: Qatar Tolak jadi Mediator Perundingan AS-Iran
Serangan tersebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer senior dan warga sipil.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta aset-aset milik AS di Timur Tengah.
Penolakan terhadap proposal gencatan senjata ini menandakan bahwa ketegangan masih jauh dari mereda, dengan kedua pihak terus menunjukkan kekuatan militernya di tengah kekhawatiran eskalasi konflik yang lebih luas.