← Beranda
Iran Layangkan Ultimatum Keras! Negara Penampung Pangkalan Militer AS Terancam Diserang
Rian Alfianto• Sabtu, 4 April 2026 | 19.41 WIB
Rudal Iran dipamerkan di Teheran pada 26 Maret 2026 di tengah meningkatnya konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. (Middle East Eye)

 

JawaPos.com - Ketegangan di Timur Tengah masih panas, ketambahan lagi Iran mengeluarkan ultimatum keras kepada Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya. Teheran memperingatkan bahwa negara yang masih menampung pangkalan militer AS berpotensi menjadi sasaran serangan jika konflik terus meningkat.

Peringatan tersebut disampaikan markas pusat angkatan bersenjata Iran melalui juru bicara Khatam al-Anbiya Central Headquarters, Ebrahim Zolfaghari, seperti dilaporkan media pemerintah Press TV, Sabtu (4/4) waktu setempat.

Dalam pernyataannya, Iran mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran terhadap aset militer AS dan Israel di kawasan.

Langkah ini disebut sebagai respons langsung terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya mengancam akan terus menargetkan infrastruktur sipil Iran, termasuk jembatan, pembangkit listrik, dan fasilitas energi.

“Menanggapi retorika provokatif Presiden AS dan ancaman berulang terkait penghancuran infrastruktur Iran, kami kembali memperingatkan,” ujar Zolfaghari.

Baca Juga: Dibakar mantan Suami, seorang Perempuan dan Ibunya di Jepara Alami Luka Bakar 90 Persen

Iran menegaskan bahwa jika ancaman tersebut direalisasikan, maka respons yang diberikan tidak hanya menyasar target militer. Teheran bahkan membuka kemungkinan menyerang sektor yang lebih luas, termasuk pusat ekonomi, energi, dan infrastruktur vital di negara-negara sekutu AS.

“Operasi balasan kami akan menargetkan sektor yang lebih penting dan luas, termasuk di negara-negara yang menjadi tuan rumah pasukan AS dan sekutunya,” lanjut pernyataan tersebut.

Lebih jauh, Iran secara tegas mengultimatum negara-negara di kawasan agar memaksa AS menarik pasukannya dari wilayah mereka.

“Negara-negara yang menampung pangkalan militer AS harus memaksa Amerika untuk hengkang jika tidak ingin terkena dampak,” tegas Zolfaghari.

Menurut laporan Press TV, potensi serangan Iran dapat menyasar fasilitas bahan bakar, pusat energi, hingga pembangkit listrik di kawasan Timur Tengah dan wilayah yang disebut sebagai 'territori pendudukan'.

Eskalasi ini terjadi di tengah konflik yang disebut Iran sebagai perang yang dipicu oleh koalisi AS-Israel sejak 28 Februari lalu. Serangan awal dilaporkan menargetkan tokoh sipil dan militer penting Iran, termasuk pemimpin tertinggi Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.

Pihak militer Iran menegaskan, penarikan pasukan asing dari kawasan kini menjadi satu-satunya cara bagi negara-negara tuan rumah untuk menghindari dampak langsung dari konflik yang kian meluas.

Situasi ini menandai peningkatan signifikan dalam tensi geopolitik kawasan, sekaligus memperbesar risiko konflik regional yang lebih luas jika tidak segera diredakan.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan