← Beranda
Serangan Beruntun di Lebanon: 3 Prajurit UNIFIL Kembali Terluka, Israel Diduga Terlibat
Rian AlfiantoSabtu, 4 April 2026 | 06.18 WIB
Kendaraan UNIFIL melaju di jalan utama di Qlayaa, di tengah meningkatnya permusuhan antara Israel dan Hizbullah, saat konflik AS-Israel dengan Iran berlanjut, di Qlayaa, Lebanon selatan, 27 Maret 2026. (Reuters).

JawaPos.com - Ketegangan di perbatasan Lebanon-Israel kembali memanas setelah pasukan penjaga perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) kembali menjadi korban ledakan yang melukai tiga personel pada Jumat (3/4) waktu setempat.

Insiden ini menjadi yang ketiga dalam sepekan terakhir, mempertegas meningkatnya risiko bagi pasukan internasional di zona konflik.

Juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, mengatakan ledakan terjadi di dalam salah satu posisi pasukan.

“Sore ini, sebuah ledakan di dalam posisi UN melukai tiga penjaga perdamaian, dua di antaranya dalam kondisi serius. Mereka sedang dievakuasi ke rumah sakit. Kami belum mengetahui asal ledakan tersebut,” ujarnya dalam pernyataan resmi.

Dikutip via Aawsat, ia juga mengingatkan semua pihak yang terlibat konflik untuk menjamin keselamatan pasukan penjaga perdamaian dan menghindari aktivitas militer di sekitar posisi UNIFIL.

Situasi Memanas di Perbatasan

UNIFIL ditempatkan di Lebanon selatan, dekat perbatasan Israel, wilayah yang kini menjadi pusat pertempuran antara militer Israel dan kelompok Hezbollah. Konflik ini telah berlangsung selama sekitar satu bulan, ditandai dengan invasi darat Israel dan serangan balasan dari Hizbullah.

Ketegangan meningkat sejak 2 Maret, ketika Hizbullah meluncurkan roket ke Israel sebagai respons atas serangan AS-Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Israel kemudian membalas dengan serangan besar-besaran ke berbagai wilayah di Lebanon, termasuk operasi darat yang kini masih berlangsung.

Insiden terbaru ini menambah daftar panjang serangan terhadap pasukan UNIFIL dalam beberapa hari terakhir seperti seorang prajurit tewas akibat proyektil yang meledak di posisi UNIFIL dekat Adchit al-Qusayr pada hari Minggu dan pada hari Seninnya, ledakan lain menghancurkan kendaraan penjaga perdamaian, menewaskan dua prajurit asal Indonesia.

UNIFIL menyatakan penyelidikan telah diluncurkan untuk mengungkap penyebab kedua insiden tersebut.

Sumber keamanan PBB menyebutkan kepada AFP bahwa serangan hari Minggu diduga berasal dari tembakan Israel, sementara ledakan hari berikutnya kemungkinan disebabkan oleh ranjau. Namun, militer Israel Defense Forces (IDF) membantah keterlibatan mereka dalam insiden hari Senin.

“Pemeriksaan operasional menyeluruh menunjukkan tidak ada bahan peledak yang ditempatkan oleh pasukan kami di area tersebut, dan tidak ada pasukan yang berada di lokasi saat itu,” demikian pernyataan militer Israel.

Menurut PBB, sejak UNIFIL dibentuk pada 1978 untuk memantau penarikan pasukan Israel dari Lebanon, setidaknya 97 personel telah tewas akibat kekerasan di wilayah tersebut.

Mandat UNIFIL sendiri dijadwalkan berakhir pada akhir tahun ini. Namun, eskalasi konflik terbaru menimbulkan pertanyaan serius mengenai masa depan dan keamanan misi penjaga perdamaian di kawasan yang terus bergolak tersebut.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra