JawaPos.com - Ketegangan di Timur Tengah semakin mendekati titik berbahaya. Iran kini secara terbuka mengancam akan melancarkan serangan yang lebih menghancurkan dan lebih luas terhadap Amerika Serikat dan Israel, menyusul pidato Presiden AS, Donald Trump, yang menyebut Iran akan dibombardir 'kembali ke zaman batu'.
Pernyataan keras dari Teheran ini menandai eskalasi baru dalam konflik yang tidak hanya melibatkan tiga negara utama, tetapi juga mulai menyeret kawasan lebih luas.
Mengutip laman ABC, pihak Iran menegaskan bahwa respons mereka terhadap ancaman Trump tidak akan setengah-setengah. Serangan lanjutan disebut akan jauh lebih destruktif dibanding sebelumnya.
Juru bicara Presiden Iran menyebut retorika Trump sebagai omong kosong, sementara elite politik Iran memperlihatkan kesiapan mobilisasi besar-besaran.
Baca Juga: Dipaksa Mundur Mendadak, Jenderal Tertinggi Angkatan Darat AS Pensiun Lebih Cepat
Ketua parlemen Iran bahkan mengklaim hingga 7 juta warga siap mengangkat senjata untuk mempertahankan negara, meski klaim ini menuai keraguan dari sejumlah pihak.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa serangan terhadap negaranya akan memicu dampak global yang luas dan berkepanjangan.
Situasi di lapangan juga menunjukkan konflik terus meningkat. Iran dilaporkan kembali meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel, sementara Garda Revolusi Iran mengklaim telah menargetkan fasilitas strategis, termasuk infrastruktur digital di kawasan Teluk.
Di sisi lain, serangan gabungan AS dan Israel juga terus berlanjut, dengan fasilitas industri baja Iran menjadi salah satu target terbaru.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa negaranya tidak akan mundur dan siap membayar harga apa pun demi keamanan nasional.
Lebanon Ikut Terbakar, Korban Sipil Meningkat
Konflik kini meluas ke Lebanon, di mana intensitas serangan Israel terhadap target yang diklaim milik Hizbullah meningkat tajam. Dalam 24 jam terakhir, roket dan drone terus menghujani wilayah utara Israel.
Baca Juga: Bos Rokok HS M. Suryo Mangkir dari Panggilan KPK, Diimbau Kooperatif
Korban di Lebanon dilaporkan telah melampaui 1.300 orang, dengan banyak di antaranya warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan sekitar 20 persen populasi negara itu telah mengungsi dan situasi ini memicu kekhawatiran akan perang regional skala penuh.
Di tengah klaim Trump bahwa perang akan segera berakhir, realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Eskalasi militer terus meningkat, wilayah konflik meluas, dan retorika dari kedua belah pihak semakin tajam.
Ancaman Iran untuk menghancurkan Israel bukan hanya respons emosional, tetapi sinyal bahwa konflik ini masih jauh dari kata selesai, dan justru berpotensi memasuki fase yang lebih destruktif dalam waktu dekat.