← Beranda
Negara-Negara Teluk Kaji Wacana Bangun Pipa Energi untuk Hindari Selat Hormuz, Tapi Terkendala Biasa Besar
AntaraJumat, 3 April 2026 | 05.02 WIB
Ilustrasi Selat Hormuz. (Freepik)

 

 

JawaPos.com-Negara-negara Teluk kembali mempertimbangkan proyek pipa untuk menghindari Selat Hormuz, menyusul meningkatnya kekhawatiran atas ketergantungan pada jalur energi tersebut, Financial Times melaporkan pada Kamis (1/4).

Hal itu mencerminkan adanya kekhawatiran bahwa gangguan di selat tersebut bisa mengancam ekspor minyak dan gas dari Teluk sehingga pejabat dan pelaku industri meninjau kembali opsi yang sebelumnya dianggap terlalu mahal atau sulit.

Krisis saat ini menegaskan nilai strategis pipa Timur-Barat Arab Saudi, jalur sepanjang 1.200 kilometer yang mengangkut minyak ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Seorang eksekutif energi Teluk menyebut pipa itu sebagai langkah "jenius" jika dilihat ke belakang.

CEO Saudi Aramco Amin Nasser menyebut jalur itu sebagai "rute utama yang saat ini kami manfaatkan," sambil mempertimbangkan ekspansi kapasitas dan pengembangan terminal di Laut Merah.

Laporan tersebut menyebutkan opsi jangka panjang dapat mencakup koridor perdagangan dari India hingga Eropa melalui Teluk.

Sejumlah eksekutif juga menilai jalur pipa menuju Mediterania pada akhirnya akan dibangun.

"Orang-orang perlu mengendalikan nasib mereka sendiri, bersama teman-teman mereka," kata CEO NewMed Energy Yossi Abu. 

Namun, para eksekutif memperingatkan adanya hambatan besar. CEO Cat Group Christopher Bush mengatakan pembangunan ulang pipa Timur-Barat akan menelan biaya sedikitnya USD 5 miliar  (sekitar Rp 85 triliun).

Sementara rute yang lebih kompleks dari Irak melalui Yordania, Suriah, atau Turki bisa membutuhkan dana USD 15-20 miliar dolar AS.

Ia menambahkan risiko keamanan di Irak masih tinggi, termasuk bom yang tak meledak dan keberadaan kelompok militan.

Rute ke Oman juga menghadapi tantangan teknis di wilayah gurun dan pegunungan, serta potensi sengketa politik terkait kepemilikan dan pengoperasian.

Dalam jangka pendek, opsi paling realistis adalah memperluas infrastruktur yang ada, termasuk pipa Timur-Barat Saudi dan jalur Abu Dhabi-Fujairah.

Bush mengatakan pembuat kebijakan Teluk kini menganggap isu tersebut sebagai hal mendesak. "Banyak pemikir sedang menelaah ini sekarang. Ini masalah besar," katanya.

Perang AS-Israel dengan Iran dan ketegangan di Selat Hormuz telah mengganggu aliran energi regional dan mendorong kenaikan harga global.

Pada 2 Maret, Iran mengumumkan pembatasan navigasi di jalur pelayaran tersebut dan memperingatkan akan menyerang kapal yang melintas tanpa izin.

Baca Juga: Komite Parlemen Iran Setujui Rencana Pungutan Tol di Selat Hormuz

Seoerti diketahui, sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati selat itu setiap hari. Meningkatnya ketidakamanan telah mendorong kenaikan harga serta biaya pengiriman dan asuransi. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan