JawaPos.com - Dua personel penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali tewas dalam insiden ledakan di Lebanon Selatan. Dengan demikian, jumlah korban tewas dari kalangan pasukan internasional dalam sepekan terakhir menjadi sedikitnya tiga orang.
Eskalasi konflik di kawasan tersebut terus memburuk. Misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) mengonfirmasi insiden tersebut dan menyebutnya sebagai bagian dari rangkaian serangan mematikan terhadap personelnya.
Peristiwa terbaru terjadi pada Senin (30/3), di dekat desa Bani Hayyan, ketika sebuah ledakan dengan sumber yang belum diketahui menghancurkan kendaraan yang ditumpangi personel UNIFIL. Dalam pernyataan resminya, UNIFIL menyebut dua personel tewas di lokasi, sementara satu lainnya mengalami luka parah dan satu personel lain mengalami luka.
Baca Juga: Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Indonesia Desak PBB Gelar Rapat Darurat Dewan Keamanan
Dilansir dari Al Jazeera, Selasa (31/3/2026), insiden ini menambah daftar korban penjaga perdamaian PBB dalam sepekan terakhir, di tengah meningkatnya kekerasan sejak Israel memperluas invasi darat ke Lebanon Selatan.
Selain itu, UNIFIL menegaskan risiko serius yang dihadapi pasukannya di lapangan. "Kami menegaskan kembali bahwa tidak seorang pun seharusnya kehilangan nyawa saat menjalankan misi perdamaian," demikian pernyataan resmi yang disampaikan organisasi tersebut.
Serangan Terpisah dan Korban dari Indonesia
Sebelumnya, pada Minggu, satu personel penjaga perdamaian tewas dalam insiden terpisah ketika sebuah proyektil meledak di posisi UNIFIL di dekat desa Aadshit al-Qusayr. UNIFIL menyatakan bahwa asal proyektil tersebut belum dapat dipastikan dan penyelidikan sedang berlangsung.
Kementerian Luar Negeri Indonesia kemudian mengonfirmasi bahwa korban tewas dalam insiden tersebut merupakan warga negara Indonesia. Selain itu, tiga personel Indonesia lainnya dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan yang disebut sebagai "tembakan artileri tidak langsung."
Dalam pernyataan resminya, pemerintah Indonesia menyatakan, "Indonesia mengutuk keras insiden ini dan menyerukan investigasi yang menyeluruh dan transparan." Pemerintah juga menegaskan bahwa Indonesia "mengecam serangan Israel di Lebanon Selatan dan mendesak semua pihak untuk menghormati kedaulatan serta integritas wilayah Lebanon, menghentikan serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur, serta kembali ke jalur dialog dan diplomasi."
Invasi Israel Kian Mendalam dan Korban Sipil Meningkat
Rangkaian insiden ini terjadi di tengah intensifikasi operasi militer Israel yang semakin dalam memasuki wilayah Lebanon Selatan. Pemerintah Israel menyatakan bahwa langkah tersebut bertujuan untuk mengamankan wilayah utaranya dari serangan kelompok Hizbullah.
Eskalasi konflik meningkat sejak awal Maret, setelah Hizbullah melancarkan serangan ke wilayah utara Israel sebagai respons atas perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari. Sejak itu, serangan balasan Israel ke Lebanon terus meluas dan memperparah situasi keamanan.
Menurut data Kementerian Kesehatan Lebanon, lebih dari 1.200 orang telah tewas akibat serangan Israel, sementara lebih dari 1,2 juta warga terpaksa mengungsi dari rumah mereka, mencerminkan krisis kemanusiaan yang semakin dalam.
Dalam 48 jam terakhir, sejumlah insiden juga dilaporkan melibatkan UNIFIL dan militer Lebanon. Seorang tentara Lebanon dilaporkan tewas akibat serangan Israel terhadap pos pemeriksaan militer yang telah ditandai secara jelas sebagai posisi resmi angkatan bersenjata Lebanon.
Seorang jurnalis di lapangan menyebut eskalasi ini berpotensi terus meningkat. "Ketika Israel mengumumkan perluasan operasi mereka di Lebanon Selatan, saya memperkirakan insiden seperti ini akan meningkat," ujarnya.
Kecaman Global dan Tekanan Diplomatik Meningkat
Reaksi internasional terhadap insiden ini terus menguat. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan semua pihak untuk mematuhi hukum internasional serta menjamin keselamatan personel PBB. Ia menegaskan, "Ini hanyalah salah satu dari sejumlah insiden terbaru yang membahayakan keselamatan dan keamanan penjaga perdamaian."
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot bahkan menyebut serangan terhadap posisi UNIFIL sebagai "tidak dapat diterima dan tidak dapat dibenarkan," serta mendesak dilakukannya penyelidikan menyeluruh. Prancis juga meminta digelarnya pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB.
Sekentara itu, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menilai insiden tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap norma internasional. "Sebuah garis merah baru telah dilanggar," ujarnya, seraya menambahkan bahwa "serangan terhadap misi penjaga perdamaian PBB merupakan agresi yang tidak dapat dibenarkan terhadap seluruh komunitas internasional."
Tak berhenti di situ, Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin memperingatkan adanya "eskalasi kekerasan yang mengejutkan" yang telah melukai sejumlah penjaga perdamaian dalam beberapa hari terakhir. Ia menegaskan bahwa "peran penjaga perdamaian harus dihormati dan dijunjung tinggi setiap saat."
Dengan bertambahnya korban dari kalangan penjaga perdamaian PBB dan meluasnya operasi militer di Lebanon Selatan, tekanan internasional terhadap semua pihak untuk menghentikan eskalasi dan kembali ke jalur diplomasi semakin meningkat, meskipun situasi di lapangan menunjukkan konflik masih terus berkembang.
Baca Juga: Sebabkan 3 Prajurit TNI Gugur dalam Tugas, Wakil Sekjen PBB Kutuk Keras Insiden di Lebanon Selatan