JawaPos.com - Di tengah klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang menunda serangan militer terhadap Iran selama lima hari, Teheran justru menunjukkan eskalasi baru dengan meluncurkan rudal balistik jarak sangat jauh.
Iran dilaporkan menembakkan dua rudal menuju pangkalan militer gabungan Amerika Serikat dan Inggris di Diego Garcia, sebuah pulau terpencil di Samudra Hindia yang berjarak hampir 4.000 kilometer dari wilayah Iran.
Serangan ini disebut sebagai upaya rudal jarak terjauh yang pernah dilakukan Iran.
Menurut analis dari Institute for the Study of War (ISW), aksi tersebut menandai perubahan signifikan dalam kemampuan militer Teheran.
“Ini merupakan percobaan serangan rudal Iran dengan jangkauan terjauh yang pernah ada,” tulis ISW.
Baca Juga: Dapat Izin Jadi Tahanan Rumah dari KPK, Eks Menag Yaqut: Alhamdulillah Bisa Sungkem ke Ibu
Satu rudal dilaporkan berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Amerika Serikat, sementara satu lainnya gagal di tengah penerbangan. Namun, jarak tempuh yang dicapai tetap memicu kekhawatiran global.
Guncang Asumsi Kekuatan Rudal Iran
Selama ini, Iran diyakini membatasi jangkauan program rudal balistiknya hingga sekitar 2.000 kilometer. Namun, serangan ke Diego Garcia berpotensi mengubah asumsi tersebut.
Analis menilai ada sejumlah kemungkinan yang membuat rudal tersebut mampu menjangkau jarak lebih jauh, salah satunya penggunaan hulu ledak yang lebih ringan.
Peneliti dari French Foundation for Strategic Research, Etienne Marcuz, menyebut rudal jenis Khorramshahr-4 bisa menjangkau jarak lebih jauh jika membawa muatan lebih kecil.
“Semakin ringan payload, semakin jauh jarak tempuh rudal,” tulisnya mengutip ABC.
Pendapat serupa disampaikan peneliti dari James Martin Center for Nonproliferation Studies, Sam Lair, yang menilai rudal dengan muatan kecil memang bisa melaju lebih jauh, meski daya hancurnya menjadi terbatas.
Dugaan Teknologi Roket Antariksa
Selain itu, analis juga mempertimbangkan kemungkinan Iran menggunakan kendaraan peluncur satelit Simorgh sebagai basis rudal jarak jauh.
Roket berbahan bakar cair dua tahap tersebut sebenarnya dirancang untuk mengirim satelit ke orbit rendah Bumi, namun komponen teknologinya dinilai bisa dimodifikasi menjadi rudal balistik.
Profesor Stephan Fruehling dari Australian National University menjelaskan bahwa secara fisika, kemampuan menjangkau jarak jauh bukan hal mengejutkan jika Iran memanfaatkan teknologi tersebut.
“Kemampuan menjangkau jarak sejauh itu tidak berarti mereka sudah memiliki kemampuan militer yang efektif,” ujarnya.
Ia menambahkan, masih ada keraguan apakah rudal tersebut membawa hulu ledak yang mampu bertahan saat kembali memasuki atmosfer.
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, membantah bahwa negaranya menargetkan pangkalan Diego Garcia.
Pernyataan ini sejalan dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, yang menyebut aliansi belum dapat mengonfirmasi peluncuran tersebut.
Namun, militer Israel memberikan peringatan keras bahwa perkembangan ini menunjukkan ancaman Iran semakin luas, tidak lagi terbatas di kawasan Timur Tengah.
Kepala militer Israel, Eyal Zamir, bahkan menyebut rudal Iran berpotensi menjangkau kota-kota besar di Eropa seperti Berlin, Paris, dan Roma.
Meski demikian, pemerintah Inggris menegaskan belum ada penilaian spesifik bahwa negaranya berada dalam ancaman langsung.
Peluncuran rudal ini terjadi di saat Trump mengklaim adanya 'pembicaraan produktif' dengan Iran dan memutuskan menunda serangan terhadap fasilitas energi Teheran.
Namun, langkah Iran justru memperlihatkan bahwa eskalasi konflik belum mereda, bahkan berpotensi meluas secara geografis.
Konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari itu kini tidak hanya berdampak pada Timur Tengah, tetapi juga memicu kekhawatiran baru di kawasan Eropa, Asia, hingga jalur strategis Samudra Hindia.
Perkembangan ini menegaskan bahwa jeda lima hari yang diumumkan Washington belum tentu menjadi sinyal deeskalasi, melainkan bisa menjadi fase konsolidasi sebelum konflik memasuki babak yang lebih berbahaya.