JawaPos.com - Pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memicu kecaman baru. Dia membandingkan Yesus Kristus dengan Genghis Khan dan mendapat sorotan terutama di kalangan umat Kristiani.
Ucapan tersebut dinilai menyinggung nilai-nilai keagamaan sekaligus memantik perdebatan soal moralitas dan kekuatan dalam konflik global.
Kontroversi bermula dari pernyataan Netanyahu dalam konferensi pers bersama media asing. Dalam kesempatan itu, ia menyatakan bahwa sejarah menunjukkan 'Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan dibandingkan Genghis Khan', karena dalam realitas dunia, kekuatan dan ketegasan sering kali mengalahkan nilai moral semata.
Baca Juga: 5 Shio Ini Terkenal karena Kerja Kerasnya, Tak Heran di Hari Tua Bakal Berjaya
“Sejarah membuktikan bahwa, sayangnya, jika Anda cukup kuat, cukup tanpa belas kasihan, maka kejahatan bisa mengalahkan kebaikan,” ujar Netanyahu, mengutip pemikiran sejarawan Amerika Will Durant.
Pernyataan kontroversial itu disampaikan Netanyahu saat membela serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, yang kemudian memicu eskalasi konflik regional.
Ia menegaskan bahwa langkah militer tersebut diperlukan untuk melindungi Israel dan bahkan dunia dari ancaman program nuklir dan rudal balistik Iran.
Menurutnya, pendekatan 'kekuatan' menjadi satu-satunya pilihan dalam menghadapi ancaman tersebut.
Baca Juga: 5 Karakter Shio Anjing yang Tak Ada pada Shio yang Lain, Apa Saja?
Pernyataan Netanyahu terkait perbandingan antara Yesus, yang dihormati sebagai simbol perdamaian dengan Genghis Khan banyak mendapat sorotan dari pemuka gama dan disebut sebagai tidak pantas.
Pendeta Lutheran Palestina asal Bethlehem, Munther Isaac, menyebut pernyataan Netanyahu sebagai “menyinggung dalam banyak aspek”.
“Ini tidak hanya membandingkan Yesus dengan Genghis Khan, tetapi juga menyiratkan bahwa jalan Yesus itu naif, sementara pendekatan ‘yang kuat pasti menang’ dianggap sebagai cara mengalahkan kejahatan,” ujarnya.
Ia juga menilai bahwa narasi tersebut mereduksi ajaran etika Yesus yang menekankan kasih, damai, dan keadilan.
“Netanyahu dan para pendukung Zionis Kristen membuat ajaran Yesus seolah tidak berarti,” tambahnya.
Kontroversi ini memunculkan kembali perdebatan klasik: apakah nilai moral cukup untuk bertahan di dunia yang penuh konflik, ataukah kekuatan militer tetap menjadi faktor utama.
Baca Juga: One Way dan Contraflow Dianggap Berhasil Urai Kepadatan Mudik 2026, Warga Merasa Terbantu
Pernyataan Netanyahu, meski diklaim sebagai kutipan akademis, dinilai banyak pihak sebagai bentuk legitimasi terhadap pendekatan kekuatan dalam politik global, yang berpotensi mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.
Isu ini pun diprediksi akan terus bergulir, terutama di tengah situasi geopolitik yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah.