← Beranda
Selat Hormuz Memanas, Donald Trump Sebut Sekutu Siap Kirim Kapal Perang
Nanda PrayogaMinggu, 15 Maret 2026 | 18.33 WIB
Selat Hormuz adalah salah satu jalur perdagangan minyak utama dunia, yang ditutup buntut perang antara AS-Israel melawan Iran. Penutupan Selat Hormuz diperkirakan bakal mengerek harga minyak dunia. (Google Maps)

JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa akan ada banyak negara yang mengirimkan kapal perang untuk menjaga agar Selat Hormuz tetap terbuka. 

Meski begitu, Trump tak memberikan rincian tentang negara mana saja yang akan terlibat dan mengirimkan kapal perangnya.

Seperti dilansir dari Al Jazeera, hal ini terjadi ketika jalur air yang mengangkut seperlima minyak dan gas alam cair global tersebut tetap tertutup pada hari ke-15 perang AS dan Israel melawan Iran.

Dalam unggahan di Truth Social pada hari Sabtu, Trump mengatakan bahwa negara-negara, terutama yang terkena dampak, akan mengirimkan kapal perang bersama dengan Amerika Serikat, untuk menjaga agar Selat tetap terbuka dan aman.

Baca Juga: Serangan Israel-AS ke Kota Industri Isfahan Iran Tewaskan 15 Orang

Dia menyebut nama-nama seperti Perancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris sebagai negara-negara yang diharapkan akan berkontribusi.

Dalam unggahan tersebut, Trump menegaskan bahwa AS telah menghancurkan 100 persen kemampuan militer Iran, sambil mengakui bahwa Teheran masih dapat mengirim satu atau dua drone, menjatuhkan ranjau, atau meluncurkan rudal jarak dekat di sepanjang jalur air tersebut.

Ia berjanji bahwa sementara itu, AS akan membombardir habis-habisan garis pantai, dan terus menembak jatuh kapal-kapal Iran.

Sebagai tanggapan, Alireza Tangsiri, kepala angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), mengatakan bahwa Selat Hormuz belum ditutup secara militer dan hanya berada di bawah kendali.

Dalam sebuah unggahan di X, ia membalas komentar Trump, dengan mengatakan bahwa Amerika secara keliru mengklaim penghancuran angkatan laut Iran.

Baca Juga: F1: GP Bahrain dan Arab Saudi Batal Digelar, Dampak Perang Iran vs Amerika-Israel Meluas

“Kemudian mereka secara keliru mengklaim pengawalan kapal tanker minyak. Sekarang mereka bahkan meminta bantuan pasukan dari pihak lain,” tulisnya.

Pekan lalu, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan bahwa AS belum siap untuk melakukan pengawalan kapal melalui selat itu sendiri.

Selat Hormuz hanya Ditutup untuk Kapal Musuh

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengklarifikasi bahwa selat itu hanya ditutup untuk kapal tanker dan kapal musuh serta sekutu mereka, bukan semua kapal.

Sementara Mohsen Rezaee, anggota Dewan Penentu Kebijakan Iran, sebuah badan berpengaruh yang dekat dengan pemimpin tertinggi, mengatakan, bahwa tidak ada kapal Amerika yang berhak memasuki Teluk.

Dua kapal tanker berbendera India yang membawa gas minyak cair melintasi selat dengan selamat pada Sabtu (14/3), kata Rajesh Kumar Sinha, sekretaris khusus Kementerian Pelabuhan, Perkapalan, dan Perairan India.

Baca Juga: Iran Tuntut AS Bayar Kompensasi dari Tarik Pasukan dari Teluk Persia

Tak hanya itu, sebuah kapal milik Turki juga diizinkan masuk awal pekan ini setelah Ankara bernegosiasi langsung dengan Teheran, sementara 14 kapal Turki lainnya masih menunggu izin masuk.

AS memperkuat kehadirannya di kawasan tersebut, dengan sekitar 2.500 Marinir dan kapal serbu amfibi USS Tripoli dalam perjalanan ke Timur Tengah menyusul permintaan CENTCOM yang disetujui oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth.

Penutupan selat tersebut juga mengancam ketahanan pangan global, menurut Pusat Studi Strategis dan Internasional.

Selat tersebut merupakan jalur penting untuk ekspor LNG, bahan baku utama untuk pupuk berbasis nitrogen yang digunakan untuk menanam biji-bijian dan sereal pokok yang menyediakan lebih dari 40 persen asupan kalori global.

India, yang menghadapi kekurangan gas masak yang kritis, telah menggunakan kekuasaan darurat untuk melindungi 333 juta rumah tangga yang bergantung pada LPG.

Baca Juga: Dubes Iran untuk RI Sebut Selat Hormuz Tetap Terbuka untuk Negara-Negara yang Patuhi Protokol

EDITOR: Bayu Putra